Nasib Malang Perempuan Pekerja Migran-Dari Satu Majikan ke Majikan Lain di Negeri Orang

Feb 25th, 2009


Oleh : Nunung Qomariyah
Staf Komnas Perempuan

Konferensi pers dalam rangka memperingati hari pekerja mingran sedunia, yang jatuh pada tanggal 18 Desember setiap tahunnya, pagi itu nampak  lebih berenergi. Seorang perempuan berparas kecil dan berkulit sawo matang mendampingi dua Komisioner Komnas Perempuan pagi itu. Tidak hanya karena kesaksian atas ketidakadilan nasib buruh migran yang membuat pagi itu lebih berenergi,  namun dengan segala keterbatasan yang dimiliki sosok perempuan itu mengobarkan semangat dan tekad untuk terus memperjuangkan pemenuhan hak-hak pekerja migran. Retno Dewi nama perempuan itu. Lahir dan besar di Majenang-Cilacap Jawa Tengah, Sayang, karena kemiskinannya, di usia yang masih belia, Retno memutuskan menjadi buruh bigran dari satu negara ke negara lain, dari satu majikan ke majikan lain. Namun nasib baik tidak begitu memihaknya. Hak ekonomi dan hak sebagai pekerja tidak pernah dipenuhi dengan baik oleh sang majikan apalagi perangkat negara, perangkat kebijakan dan institusi lain. Hingga dalam perjalanan kerjanya, perempuan yang kini menjadi Koordinator Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia (ATKI ) wilayah Jakarta, mulai sadar atas hak-haknya sebagai manusia dan sebagai perempuan. Sembari terus belajar hidup, kini Retno Dewi terus gigih memperjuangkan hak kawan senasib seperjuangannya yang masih berada di negeri orang. Berikut penuturan Retno Dewi dalam Konferensi Pers yang berlangsung di kantor Komnas Perempuan

Saat saya duduk di bangku kelas dua SLTA, dengan terpaksa saya harus memutuskan keinginan  melanjutkan sekolah. Keluarga saya tidak bisa melakukan apa-apa karena mereka memang tidak mampu lagi membiayai sekolah. Maklumlah pekerjaan orang tua yang tidak menentu hanya cukup untuk mengganjal perut seluruh isi keluarga yang berjumlah lima orang. Semangat ingin membantu orang tua yang masih menyekolahkan dua adik saya dan juga keinginan untuk mandiri tentunya  mengantarkan saya menjadi Tenaga Kerja Wanita. Keinginan saya menjadi TKW disambut oleh seorang “calo” yang yang kebetulan adalah tetangga saya sendiri.

Pada saat itu belum banyak anak sebaya saya yang pergi merantau ke Luar Negeri, namun karena ibu saya pernah juga bekerja di Luar Negeri tak urung ide mengikuti “jejak karir” nya merasuk dalam pikiran. Saya hanya mengeluarkan uang Rp. 100.000 untuk medical chekup, walaupun pada akhirnya saya tahu biaya medical checkup sebetulnya menjadi kewajiban Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI), dan anehnya di dalam kontrak kerja yang saya baca biaya medical chekup bisa dimintakan di majikan yang akan menerima tenaga kerja tersebut. Dan, semua biaya pembuatan KTP, Paspor dan dokumen-dokumen lain yang dibutuhkan untuk keberangkatan semuanya menjadi tanggung jawab pihak calo dan PJTKI. Bisa dibilang saya hanya tahu beres saja. Sebetulnya saya agak heran juga karena calo dan PJTKI mau membiayai pembuatan paspor, visa dan dokumrn lain yang tentunya membutuhkan uang yang tak sedikit. Belakangan banyak kawan yang bilang para calo ini mendapat upah empat juta rupiah dari PJTKI untuk satu orang yang berhasil diberangkatkan menjadi tenaga kerja di Luar Negeri.

Setelah semua dokumen siap saya di berangkatkan di PJTKI yang ada di Jakarta untuk mendapatkan “pelatihan keterampilan”. Biasanya tempat itu disebut “Training Centre atau Penampungan”. Enam bulan saya berada dipenampungan, dan selama di penampungan saya harus menyelesaikan beberapa training seperti: belajar bahasa, cara mencuci, menyetrika, merawat bayi, memasak dan lain-lain. Masih hangat di dalam ingatan saya, diruangan yang hanya berukuran kecil kami dikumpulkan bersama  dengan 300 perempuan lain yang juga ingin mencari pundi-pundi uang untuk membantu keluarganya masing-masing.. Kami semua tidur berjajar layakanya ikan asin yang dijemur, beralaskan matras tipis. Sehingga jika malam datang tak urung hawa dingin menusuk tulang-tulang saya.

Di penampungan ini tidak ada sama sekali dokter atau tenaga medis lainya yang membantu jika ada kawan sakit, “kerokan“, saling memijit satu sama lain, minum obat ala kadarnya menjadi alat yang ampuh untuk menghilangkan rasa sakit yang kadang-kadang muncul. Di penampungan pula hanya tersedia dua kamar mandi untuk 300 perempuan. Selain itu kami tidak mendapat makanan yang cukup dan memadai. Untunglah saat-saat seperti itu orang tua saya datang berkunjung dan memberikan sedikit makanan.. Selama pelatihan kami tidak memperoleh informasi apapun jika kami mengalami kesulitan,  misalnya alamat Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), kontak person yang harus dihubungi ketika mendapat kesulitan dan sebaginya. Memang sehari sebelum Pembekalan Akhir Pemberangkatan (PAP) ada beberapa informasi yang disampaikan, tapi informasi tersebut hanya himbauan agar melawan jika majikan melakukan kekerasan.

Akhirnya setelah enam bulan berada dipenampungan saya mendapat majikan. Sayang  keinginan untuk bekerja di Hongkong pupus, pihak PJTKI menempatkan saya di Singapura dengan alasan saya belum pernah punya pengalaman menjadi pekerja rumah tangga sebelumnya. Oh ya, karena saat itu saya baru berumur 15 tahun, sehingga semua identitas dari mulai umur, tanggal lahir, alamat dipalsukan oleh PJTKI. Dan malam sebelum keberangkatan, pihak PJTKI meminta saya untuk menandatangani perjanjian yang menerangkan bahwa saya berhutang pada PJTKI sejumlah SG$1200  dan harus diagsur selama enam bulan dengan cara memotong sebesar SG$200 setiap bulannya. Padahal waktu itu saya hanya menerima gaji SG $230, alhasil selama enam bulan saya hanya menerima gaji sebanyak SG$30.

Sesampai di Singapura, paspor dan kontrak kerja saya di tahan oleh agensi di Singapura. Saya tidak menolak karena saya kira itu bagian dari peraturan. Ternyata tidak hanya dokumen saya yang ditahan, dokumen kawan-kawan pekerja migran yang lain juga mengalami nasib yang sama. Informasi ini saya terima setelah bertemu dengan kawan-kawan sesaman pekerja yang berasal dari Indonesia. Saya hanya bertahan selama enam bulan, karena bulan keenam setelah saya berhasil membayar “hutang” saya ke agensi, majikan mem-PHK saya dengan alasan tidak mampu membayar gaji bulan berikutnya.
Bersambung

Leave a Reply