Click to listen highlighted text! Powered By GSpeech

Indonesia Berduka Melepas Kepergian Asmara Nababan

Hari ini, 28 Oktober 2010, bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda, Indonesia kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya,  Asmara Nababan. Pejuang hak asasi manusia ini lahir di Siborong-Borong, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, 2 September 1946. Kepemimpinannya dalam membangun gerakan masyarakat menghadapi represi negara menempatkan ia sebagai tokoh penting dalam sejarah berdirinya Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Asmara Nababan merupakan salah satu dari 25 figur nasional terpilih sebagai anggota Komnas HAM periode 1993-1998 dan sebagai Sekretaris Jendral Komnas HAM pada periode 1998-2002. Kepada masyarakat pula ia kembali. Pasca kepemimpinannya di Komnas HAM, Asmara menginisiasi berbagai cara penanganan peristiwa pelanggaran HAM masa lalu dan membangun kekuatan agar peristiwa serupa tak berulang di masa depan.

Asmara Nababan mempunyai posisi khusus di hati gerakan perempuan Indonesia. Sebagai anggota Tim Gabungan Pencari Fakta Kerusuhan Mei 1998 (TGPF), ia turut mengungkap adanya serangan seksual terhadap perempuan etnis Tionghoa di tengah kerusuhan itu. Temuan ini menjadi sebuah kekuatan bagi pengungkapan kasus-kasus serupa di berbagai wilayah dan konteks lainnya di Indonesia dan menjadi tonggak sejarah baru perkembangan gerakan perempuan di Indonesia. Lebih dari itu, dalam berbagai pengungkapan kasus pelanggaran HAM, Asmara Nababan memiliki kepekaan yang tinggi dan pengetahuan yang mendalam akan kekhasan perempuan pada kekerasan yang dialaminya.

Bagi Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), Bang As-demikian kami kerap memanggilnya- selalu hadir untuk memberikan dukungan. Pemikirannya tentang perlindungan saksi dan korban, tentang pengembangan pengungkapan pelanggaran HAM berbasis keadilan jender, tentang gerakan melawan lupa pada sejarah pelanggaran HAM masa lalu dan tentang penguatan Komnas Perempuan sebagai mekanisme nasional penegakan HAM adalah beberapa diantara bentuk dukungan itu. Bahkan, di tengah situasi dirinya bertarung dengan kanker yang menggerogoti kesehatannya, Bang As masih memimpin rapat di Komnas Perempuan untuk menyusun naskah Rancangan Undang Undang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi serta memberi masukan yang berharga pada konsep penguatan bagi perempuan pembela HAM.

Selamat jalan Bang Asmara! Rasa kehilangan yang begitu dalam karena kepergianmu akan kami genggam dalam hati. Kenangan pada sosok serta sumbangsih pemikiran Bang As akan selalu menjadi sumber kekuatan bagi Indonesia dalam melanjutkan perjuangan penegakan HAM. Semoga Tuhan menerimamu di sisi-Nya dan memberkatimu. Amin.

Hormat kami selalu,

Komnas Perempuan

Click to listen highlighted text! Powered By GSpeech