Ketidakramahan terhadap Perempuan Hamil: Pengalaman di dalam Kereta


5 July 2010 | Kategori: Feature, Ragam

Oleh: Nunung Q
Staf Komnas Perempuan

Cerita fasilitas publik, perempuan dan peraturan di Indonesia nampaknya perlu diberi catatan khusus. Selain tidak ramah perempuan, “homo homini lupus”, tidak manusiawi juga tidak menunjukan sisi Ketuhanan seperti yang terucap di dasar negara ini :p Cerita ini saya kuak dari ‘karir berkeretaapi’ yang saya jalani lebih dari setahun belakangan. Berbagai kejadian, fasilitas dan hal-hal lain yang saya temui sering menganjal dan mengundang marah saya. Undak-undak yang tinggi di stasiun-stasiun seperti di Cawang, Depok Baru, Tanah Abang yang tanpa eskalator sangat tidak ramah perempuan, khususnya perempuan hamil. Mungkin secara nasional tata ruang, kebijakan dan pembangunan bangunan di Indonesia belum ada “bau perempuan”nya. Di tulisan ini, saya ingin sekelumit menunjukan bagaimana pembiaran ketidakramahan perempuan itu disokong dan terjadi.

Karena sebab khusus, kami beberapa waktu terakhir terpaksa kerja lembur dan pulang larut. Hingga, seperti hari itu, jam berpacu terlalu cepat, tidak terasa jari-jari jarum jam menunjuk pukul sembilan belas lewat lima menit. Sudah hampir sepuluh jam lamanya kami telah berada di dalam ruangan dingin berukuran 5×10m, berkutat dengan seabrek pekerjaan yang tentunya tidak akan pernah selesai. Kami pun bergegas meninggalkan kantor karena harus mengejar kereta terakhir jam 19.25 Wib untuk rute Tanah Abang-Bogor. Kebetulan rumah kami (saya dan Tia) searah. Tia pulang ke Bogor dan aku sendiri menuju Depok.

Jarak kantor kami yang terletak di bilangan Menteng dengan stasiun yang akan kami tuju lumayan jauh, kira-kira 20 menit. Dengan merogoh kocek Rp. 10.000 kami diantar transportasi khas Jakarta, Bajaj, menuju stasiun yang biasa disebut orang sebagai stasiun Sudirman, Blora atau Dukuh Atas. Sebagai gambaran saja kondisi stasiun Dukuh Atas jauh lebih baik ketimbang stasiun-stasiun lain yang ada di Jakarta maupun di Bogor. Stasiun ini memang kecil, tapi bersih dan lengkap fasilitasnya. Setidaknya terdapat ATM, tempat menunggu yang lumayan dan semua menu makanan bisa ditemukan di sini, dari mulai Bakso Malang, Mie Ayam, Mie Aceh, Empek-empak khas Palembang, Pecel, gethuk, Bubur Ayam, roti, buah dan tak ketingggalan gorengan. Kalau boleh jujur makanan yang disediakan di stasiun ini jauh lebih mahal ketimbang di stasiun lain. Jika di stasiun Manggarai dengan Rp. 1000,- kita bisa mendapatkan empat macam gorengan, di stasiun Sudirman harga satu macam gorengan rata-rata Rp. 1500,-. Maklumlah hampir bisa dipastikan penumpang kereta listrik dari stasiun Sudirman ini adalah penumpang eksekutif atau berduit semua.

Ah, syukurlah sampai juga di stasiun yang kami tuju dan untunglah kereta yang akan kami naiki belum lewat, masih ada waktu lima menit untuk bernafas sebelum akhirnya kereta rute Tanah Abang- Bogor datang. Dari Staisun Tanah Abang kereta ini akan berhenti dibeberapa stasiun yakni Sudirman, Depok Baru dan Depok Lama, Bojong Gede dan berakhir di Bogor. Di Jakarta sudah menjadi rutinitas melihat para penumpang kereta listrik berebut untuk mendapatkan tempat duduk, maklumlah untuk sampai di Depok butuh waktu sekitar 25 menit dan satu jam untuk sampai di Bogor. Para penumpang kereta listrik ini biasanya segera mencari tempat senyaman mugkin untuk melepas lelah. Jika beruntung kita akan duduk di kursi yang empuk yang disediakan kereta listrik ini, jikapun tidak biasanya mereka akan duduk dikursi lipat yang mereka bawa masing-masing sebagai persiapan jika tidak berhasil berebut tempat duduk, atau cukuplah dengan menggelar koran yang biasanya dibeli saat pagi hari.
Aku sendiri hampir jarang berebut tempat duduk, bagiku koran sudah cukup untuk lesehan menikmati perjalanan Sudirman – Depok Lama yang hanya 25 menit. Namun malam ini mau tidak mau kami harus berebut karena Tia sedang mengandung tujuh bulan, sehingga kami atau minimal Tia harus mendapatkan tempat duduk. Sayang setelah berhasil masuk di dalam kereta, semua tempat duduk sudah terisi. Memang jumlah tempat duduk yang tersedia tidak sebanding dengan jumlah penumpang, sehingga berdiri dan berdesak-desakan sudah menjadi hal yang sangat wajar. Biasanya kereta terdiri dari tujuh gerbong dan setiap gerbong terdiri dari empat deret tempat duduk besar dan kecil yang saling berhadapan satu sama lain. Setiap deret bisa diisi empat sampai delapan orang. Deret yang besar biasanya diisi oleh 7-8 orang dan deret yang kecil biasanya diisi oleh empat orang. Anak kecilpun tahu apalagi orang berpendidikan bahwa deret yang kecil sengaja diperuntukkan bagi orang cacat, lansia dan perempuan hamil. Ada simbol perempuan hamil, lansia dan penyandang cacat tertempel di kaca tempat duduk deret kecil tersebut. Dan saya yakin setiap mata normal mampu untuk melihat simbol tersebut.

Selama setahun lebih saya menggunakan kereta listrik untuk transportasi mengais rizki di Jakarta, memang hampir jarang orang peduli dengan aturan macam itu, aturan bahwa ada tempat khusus bagi kategori yang saya sebutkan di atas. Terbukti malam ini walaupun melihat kawan saya yang sedang berperut buncit, mereka toh cuek dan tidak bergeming melihat keberadaan kami yang tengok kanan-kiri berharap masih ada sisa tempat duduk. Yang terjadi mereka malah seolah tidak melihat dan pura-pira tidur. Huh, saya menjadi kesal dan marah, tak urung keluar dari mulut saya ” Maaf ya, orang hamil boleh duduk di sini kan?” Pengen tahu jawaban mereka? Salah satu dari mereka menggeser tempat duduknya berharap kawan saya yang sedang hamil bisa ikut nyempil di tempat duduk tersebut. Kawan saya mencoba untuk duduk, walaupun saya tahu duduk seperti itu tidaklah nyaman. Bagaimana mungkin orang yang sedang hamil diberi tempat sempit, bukankah orang hamil badannya melebar? Apalagi pantatnya!!

Yah barangkali mereka para perempuan itu tidak pernah merasakan bagaimana susahnya perempuan hamil, yang laki-laki mungkin juga tidak pernah punya istri hamil, sehingga tidak punya rasa empati sedikitpun? Walaupun aku sendiri juga belum pernah merasakan hamil, tapi menurut orang tua perempuan hamil tidak boleh berdiri terlalu lama, karena kaki bisa bengkak dan tidak baik buat kandungan.

Dalam banyak hal perempuan mampu bersaing dengan laki-laki, dalam kereta toh mereka bersaing untuk berebut kursi tempat duduk, menuntut kesetaraan dan tidak ingin dibedakan berdasarkan seks atau jenis kelamin. Namun justeru karena secara kodrati perempuan berbeda dengan laki-laki, perempuan punya hal-hal yang tidak dimiliki laki-laki, begitupun sebaliknya. Perempuan punya rahim, indung telur dan karenya mereka hamil. Itu kodrat yang tidak bisa dipertukarkan dengan laki-laki. Jadi sangat wajar jika perbedaan yang kodrati itu harus diimbangi dengan perlakuan yang berbeda pula. Saya jadi teringat apa yang dikatakan oleh salah satu komisioner Komnas Perempuan ” kesetaraan bukan berarti sama dalam semua hal, namun memperlakukan laki-laki dan perempuan secara sama dimana mereka harus diperlakukan sama, dan memperlakukan perempuan dan laki-laki secara berbeda dimana mereka seharusnya diperlakukan berbeda”

Saya justeru terharu melihat karakter penumpang kereta listrik ekonomi. Walaupun tentunya jauh tidak nyaman menggunakan kereta listrik ekonomi, karena di KRL ekonomi siapapun akan bersyukur bisa berdiri dengan dua kaki karena sesaknya. Namun di dalam KRL ekonomi yang notabenya mereka adalah orang-orang yang miskin secara ekonomi, namun jauh lebih beradab karena mereka-para penumpangnya tidak akan membiarkan seorang perempuan, lansia dan orang cacat semakin tidak nyaman-mereka akan merelakan tempat duduknya diberikan oleh orang yang memang diperlakukan secara lebih khusus. Nampaknya saya menemukan keberadaban, perspektif ramah perempuan, kemanusiawian dsb di wajah-wajah kuyu kumal nan susah penumpang kereta ekonomi .


Tags : Share on Facebook


© 2012 Komnas Perempuan | Jl Latuharhary 4B, Jakarta 10310 Tel: 62-21-3903963 Fax : 62-21-3903922 |
Kirim saran dan kritik ke redaksi@komnasperempuan.or.id
106 queries. 0.723seconds.