Tafsir Perempuan untuk Kartini


21 April 2010 | Kategori: Main Article

Pada 1999, ketika pertama kali membuka arsip berharga surat-surat asli Kartini kepada Abendanon dan sahabat-sahabatnya di Belanda, saya termangu beberapa saat. Pelan tergetar karena menyentuh jantung sejarah salah satu cikal bakal gerakan perempuan di Nusantara. Dokumen asli itu ditulis tangan rapi, berbahasa Belanda, di atas kertas-kertas tua, kartu pos, robekan seadanya, kertas kartun, atau bahkan ada yang mirip bungkus rokok.

Dokumen yang tersimpan rapi di perpustakaan KITLV Leiden, Belanda, itu cukup berbicara aspek-aspek personal tentang perkembangan hidup Kartini. Ada cerita ringan, selebihnya adalah refleksi kritis tentang persoalan-persoalan perempuan, kolonalisme, agama, ekonomi, politik, maupun budaya berbasis konteks zamannya. Surat-surat Kartini tersebut akhirnya dikompilasi dan terbit dalam berbagai versi.

Elan Vital Perjuangan
Kartini
Kartini tidak terlepas dari kontroversi. Namun, dengan perspektif yang berbeda, pikiran-pikiran Kartini layak dicatat sebagai perjuangan yang luar biasa pada zamannya, berbanding dengan belia usia dan keterbatasan mobilitas fisiknya.

Elan vital perjuangan Kartini untuk perempuan ia kemas dalam bilah-bilah spirit berikut ini. Pertama, anti-kolonialisme dan feodalisme. Spirit itu diungkapkan dengan mengontraskan kehidupan jelata pribumi Jawa dengan pengerukan kekayaan oleh kompeni. “Orang mudah sekali lupa kalau negeri ‘kera yang miskin ini’ telah mengisi penuh kantong-kantong mereka dengan emas saat mereka pulang.” Kolonialisme juga menyesakkan batinnya karena diskriminasi berantai akibat tertutupnya akses politik, pendidikan, dan kultural anak bangsa, khususnya bagi perempuan.

Kedua, pendidikan untuk resistensi. Pada akhir abad ke-18, ketika tradisi beraksara Latin baru dimiliki beberapa elite pribumi, mengajarkan aksara kepada perempuan di luar lingkaran keraton adalah penegasan perjuangan berbagai lapis. Melalui aksara Latin, sebagian besar jendela pengetahuan modernisme dan geliat perjuangan yang membuka akses politik disebarkan. Misalnya, pada awal abad ke-19, hak pilih dalam politik hanya milik perempuan kolonial, lalu bergeser ke perempuan pribumi terdidik, karena mensyaratkan harus bisa baca.

Ketiga, pluralisme dan pembumian agama. Pemikiran Kartini adalah melting pot berbagai penyerapan aneka agama yang berlalu lalang dalam tradisi dan bacaannya. Kultur santri dari keluarga ibu kandungnya, korespondensi dengan Yahudi, Stella Zaahandellaar, persentuhan dengan sahabat dan guru-guru Belanda dengan kultur kekristenan.

Lebih dari itu, pikiran Pandita Ramabai, tokoh perempuan Hindu, membuat Kartini berkesimpulan bahwa esensi agama adalah pemihakan pada yang lemah. Pandita adalah pejuang India yang murka atas praktek teologi Hindu yang mempersalahkan perempuan sebagai penyebab kematian suami dan karenanya harus ada tradisi Sati, ikut mati suami. Meski akhirnya Pandita pindah agama, spirit kemanusiaan untuk membela kaum perempuan Hindu adalah perjuangan lintas agama.

Kartini juga diasuh guru besar Kiai Saleh Darat (1820-1903) –yang konon pernah menjadi guru perintis NU, Hasyim Asy’ary. Kiai Saleh Darat harus “berlutut” menyerahkan hadiah perkawinan berupa terjemahan Surat Al-Fatihah karena, menurut Kartini, Al-Quran harus didekatkan kepada umatnya dengan diterjemahkan, bukan dilafalkan atau dihafalkan saja. Desakan penerjemahan Al-Quran bagian dari kontribusi Kartini untuk pembumian agama.

Keempat, peace builder. Salah satu bacaan yang mempengaruhi Kartini adalah karya Berta von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjatamu), sebuah upaya menghentikan perang dengan cara berbeda. Ketika Pemerintah Belanda berseteru dengan Nusantara, Kartini sedang berdiplomasi dengan goresan tangannya. Ia menceritakan makna kolonialisme bagi perempuan dan rakyat jelata di sekelilingnya, melihat persoalan perang dari kacamata korban, dan membuat strategi lobi dengan cara khas perempuan, melalui ranah-ranah privat yang tidak terlihat, tetapi sangat powerful.

Dengan caranya, Kartini adalah agen upaya perdamaian, bukan di meja-meja perundingan yang kerap tidak efektif, bukan dengan bahasa-bahasa hard politic dan strategi-strategi formalis lainnya, melainkan dengan penuturan kesaksian empiris, berbasis pengalaman korban dan dituturkan dengan cara menyentuh. Inilah catatan sejarah peace building berperspektif perempuan yang dirintis Kartini, tapi sering luput tertangkap oleh sejarah.

Kelima, negosiasi politik feminitas. Dalam kultur tradisional, memasak, dikawinkan, dan dipingit adalah sejarah linier yang lekat dengan pembakuan perempuan. Kartini menggunakan peran domestik itu sebagai strategi accommodating protest, upaya cerdik mengadopsi aspek feminitas untuk dinegosiasikan menjadi kekuatan.

Memasak dalam konteks Kartini bisa ditafsirkan sebagai upaya menyejajarkan egalitarianisme pribumi dengan kolonial melalui ranah domestik tradisi perempuan. Kecanggihan Kartini memasak aneka masakan lokal dan Eropa membuatnya dianggap berbudaya, beradab, dan pada saat yang sama masih memelihara kelaziman sebagai strategi keberterimaan terhadap ide-ide progresifnya.

Menyerah pada tradisi pingitan usai bersekolah di Europese Lagere School (ELS) sampai usia 12 tahun tidak membuatnya bodoh. Pingitan adalah pembatasan freedom of movement secara fisik, tetapi membuat pengembaraan intelektual Kartini melalui bacaan-bacaan dan korespondensinya sebagai liang lari melesat melintas batas tembok-tembok pemingitnya.

Persentuhan bacaan feminisme melalui Hilda van Suylenburg karya Gekoop de Jong, Moderne Maagden karya Marcel Prevost, De Vrouw en Sosialisme Augusta Bibel, di samping surat kabar dan majalah progresif seperti De Hollandsche Lelie, membuat kritisismenya menyubur. Tawaran menulis di berbagai terbitan Hindia Belanda juga mengalir, walau di balik tembok rumah.

Kepasrahan Kartini menikah dengan Djojo Adhiningrat hanya sejengkal dari kesempatan bersekolah ke Belanda atau sekolah kedokteran di Batavia. Tapi Kartini berkata, “Singkat dan pendek saja, bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan ini lagi, karena saya sudah akan kawin.” Ternyata salah satu deal “perjanjian” untuk menikah adalah diperbolehkannya Kartini membuat sekolah perempuan di sebelah timur pintu gerbang kompleks Rembang.

Janji lain suaminya adalah berkolaborasi menulis cerita dan mainan anak-anak Jawa untuk dipublikasi di Belanda sebagai sumber inspirasi anak-anak Belanda. Kartini ingin bilang, boleh saja moyang mereka menjajah, tetapi melalui budi peradaban luhur, anak bangsa pribumi justru bisa mengajari anak penjajah. Diplomasi dan investasi sistemik generasi ke depan untuk menghentikan penjajahan.


Relevansi Perjuangan
Kartini dalam Konteks Kekinian
Saya sengaja mengangkat aspek-aspek tadi untuk melihat, setelah lebih daei seabad sepeninggal Kartini, problem-problem yang tumbuh nyaris sama. Bedanya hanya wajah dan intensitasnya. Isu poligami, pembatasan akses politik perempuan, pemiskinan perempuan, perdagangan perempuan, dampak konflik global yang berbeda terhadap perempuan, bahkan hak dasar perempuan dengan angka kematian ibu masih menganga lebar di Indonesia.

Kematian Kartini, tokoh muda pejuang perempuan, pemantik nasionalisme, juga bagian dari sulitnya akses kesehatan pada saat melahirkan. Ia wafat pada 1904, ketika krisis pasca-melahirkan, karena harus menunggu Dokter Van Ravesteyn dari Pati.

Seabad. Apa maknanya bagi perempuan? Perjuangan perempuan Nusantara –yang menjadi Indonesia, berawal dari individual lokalistik, modern organisatoris, yang punya dinamika dan warna setiap masa. Bahkan kini mengglobal dalam agenda Millennium Development Goals (MDGs), gender mainstreaming policy, menafsir ulang agama, hingga ke aspek yuridis, edukatif, sampai politik. Pola perjuangannnya semakin luar biasa, tetapi paralelisme masalahnya juga beriring, bahkan potensial mengencang.

Kekuatan Kartini adalah pemintaran yang tiada henti. Ia juga kritis, memiliki jaringan lintas batas, anggun dan bernas berstrategi, pluralistik, berwawasan internasional berbasis lokal, serta mengonservasi kekuatan kultural dan agama. Ia mampu pula mengomunikasikan pikiran dengan tulisan menawan, kuat membangun solidaritas. Satu yang pasti, ia selalu berpijak dari kacamata korban.

Yuniyanti Chuzaifah Ketua Komnas Perempuan,
sedang menuntaskan program doktoral di Universitas Amsterdam
[Mukadimah, Gatra Edisi Khusus Beredar Kamis, 15 April 2010]

ARTIKEL TERKAIT :



Tags : Share on Facebook


© 2012 Komnas Perempuan | Jl Latuharhary 4B, Jakarta 10310 Tel: 62-21-3903963 Fax : 62-21-3903922 |
Kirim saran dan kritik ke redaksi@komnasperempuan.or.id
115 queries. 0.732seconds.