|
Kusmiati, Tukang Urut keliling, Tangerang
Kartini buat saya adalah pejuang emansipasi wanita sehingga perempuan-perempuan tidak hanya di dapur saja, mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan hanya berdiam diri di rumah saja, tapi bisa bekerja di luar rumah juga, seperti laki-laki. Sekarang ini perempuan dan laki-laki sudah bisa sama-sama bekerja. Kartini juga sangat peduli dengan pendidikan. Perempuan memang seharusnya bisa sekolah sampai tinggi, tidak hanya tamat SD atau sampai SMU saja, apalagi jaman sekarang. Saya cukup prihatin melihat dan menengar kabar tentang TKW Indonesia di luar negeri yang mendapatkan perlakuan buruk dari majikannya. bukan hanya perlakuan buruk dari majikan saja yang dialami TKW kita, tapi perlakuan buruk dari suami juga di kampungnya, seperti banyak kasus, isterinya mengirimkan uang ke kampung untuk suami dan keluarganya, malah dipakai judi dan nikah lagi sama perempuan lain. Jadi ketika si TKW pulang ke kampungnya, sudah capek dan mendapatkan perlakuan buruk dari majikan, gak punya uang lagi dan ditinggal suami. Bagaimana cara mengatasi masalah ini ya. |
|
|
 |
Handrayunis, Penjual Minuman (Depok)
Berkat perjuangan Kartini perempuan sekarang sudah bebas mencari kerja, bebas berekspresi, dan bisa setara dengan laki-laki. Banyak sekali perempuan yang bisa mengerjakan “kerjaan” laki-laki, tapi belum tentu laki-laki bisa mengerjakan kerjaan perempuan. Perempuan sambil bekerja bisa sambil menjaga anak. Tapi kalau laki-laki bekerja ya sudah tidak mikir yang lain lagi. Meskipun demikian, perjuangan Kartini belum bisa dianggap berhasil. Karena dibanyak tempat masih banyak perempuan yang buta huruf, miskin dan akhirnya banyak yang keluar negeri menjadi TKW, dan ujung-ujungnya mereka disiksa. Saya kira semua orang sekarang harus bisa saling membantu, biar yang kaya tidak semakin kaya dan yang miskin juga tidak semakin miskin |
|
|
 |
Yeti Octaviani, Diplomat, Jakarta
Menyikapi hari Kartini setiap tahunnya dan melihat perjuangan Kartini sendiri hendaknya jangan simbolis saja tetapi lebih memaknainya bahwa untuk mencapai keadilan gender butuh proses, tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Pemaknaan lainnya adalah bahwa perempuan pejuang hak-hak perempuan dan keadilan gender, bukan hanya Kartini saja, tetapi banyak perempuan lain yang juga terlibat. Semangat Kartini patut ditauladani, seperti perjuangan tidak instan, tapi perlu proses yang lama dan panjang dan juga pelibatan perempuan bukan hanya dalam segi jumlah atau kuantitas saja tetapi pelibatan dalam artian kerja konkrit untuk mewujudkan keadilan gender dan ini tidak dapat dilakukan dalam waktu dan proses singkat. Persoalan yang masih banyak dialami perempuan Indonesia hingga saat ini adalah stereotipe yang merupakan bentukan struktur sosial dan banyak orang taken for grante.. Kemudian juga belum ada ruang kompetisi dan kesempatan yang equal. Sehingga perlu ada dorongan dan motivasi terhadap perempuan agar mereka bisa melakukan kerja konkrit sesuai kapasitasnya baik sebagai perempuan maupun sebagai role model untuk generasi selanjutnya |
|
|
 |
Uthe, ibu Rumah Tangga, Kebumen
Perjuangan Kartini hari ini bisa dinikmati oleh banyak perempuan. Perjuangan Kartini menginspirasi banyak perempuan agar mereka tidak pantang menyerah. Perempuan sudah banyak yang sukses, mereka bisa sekolah tinggi dan berkarir sesuai dengan keinginannya. Meskipun begitu seharusnya perempuan tidak boleh lupa dengan “kodratnya”, yakni menjadi istri, pelayan suami dan keluarga |
|
|
 |
Fatkhah Zunarti, Pemilik Kedai, Jogjakarta
Perempuan Indonesia sudah banyak yang mengenyam sekolah, bekerja dan mendapatkan kebebasan tidak seperti jaman Kartini dulu. Masalahnya kebebasan apa yang diinginkan oleh Kartini untuk perempuan-perempuan yang diperjuangkan? Dan apakah pencapaian perempuan Indonesia saat ini berkat perjuangan Kartini pada saat itu, atau karena pengaruh banyak hal dan kondisi sekitar? Perjuangan Kartini harusnya dimaknai bahwa perempuan Indonesia harus tahu apa yang terbaik bagi dirinya sendiri. Sehingga perempuan bebas untuk menentukan dirinya sendiri, apakah dia mau bekerja, sekolah, menikah ataupun tidak menikah. Dan tidak ada yang boleh lagi mengatakan perempuan harus begini dan begitu. Sayangnya cita-cita Kartini sepertinya masih harus dilanjutkan. Masih banyak perempuan yang terbelenggu dengan budaya yang masih membatasi ruang gerak perempuan. Kedepan perempuan harus menyadari bahwa kodrat yang membedakan perempuan dan laki-laki hanyalah bahwa perempuan mengandung, melahirkan dan menyusui. Selebihnya laki-laki dan perempuan itu sama |
|
|
 |
Ricky Jo Threezardi, Pegawai Bank, Jakarta
Perjuangan Kartini menjadikan perempuan saat ini menjadi kuat, perempuan jadi bisa bekerja sesuai dengan keinginannya. Bagaimanapun perjuangan Kartini adalah tonggak dari perjuangan perempuan-perempuan sekarang, sehingga hari ini kita bisa lihat perempuan-perempuan menjadi maju dan bisa memperjuangkan emansipasinya. Namun sayangnya, ini yang saya tidak suka peringatan Hari Kartini justru diperingati hanya dengan hal-hal yang bersifat seremonial, lomba kebaya dan sebagainya. Kalau menurutku peringatan Hari Kartini harusnya diperingati dengan upaya perempuan untuk terus maju, menunjukkan bahwa perempuan bisa bekerja dan sekaligus menjaga rumah tangga, yang sebenarnya hal itu tidak bisa dilakukan oleh laki-laki. Sekarangpun sebetulnya kita bisa melihat banyak Kartini-Kartini masa kini, mereka adalah para perempuan yang bisa memposisikan dirinya sebagai istri, anak, ibu dalam keluarga, dan sebagai pelayan masyarakat.Namun, sepertinya kita harus berjuang lebih keras lagi karena masih banyak perempuan yang belum mengeyam pendidikan, budaya juga masih memosisikan perempuan hanya sebagai pengelola sumur, dapur dan kasur, rata-rata perempuan yang bekerja juga masih terbatas di perkotaan dan masih banyak perempuan yang mengalami kekerasan. Sehingga harus lebih banyak melakukan sosialisasi ke daerah soal pentingnya pendidikan, bahwa sebenrnya perempuan bukan hanya sekedar mengurus anak dan keluarga, bahwa perempuan dan laki-laki sama. Media, sekolah, masyarakat dan perempuan yang sudah sukses harusnya melakukan sosialisasi itu. |
|
|
 |
Raymond Simanjorang, Praktisi IT, Jakarta
Menurut saya, yang dilakukan Kartini biasa saja, tidak istimewa. Tetapi, Kartini berani membuat perbedaan pada jaman itu di mana tidak ada orang yang berani seperti Kartini. Hari Kartini merupakan refleksi apakah perempuan sekarang sudah berani membuat perbedaan pada jamannya. Jawabannya, menurut saya memang belum. Kesetaraan gender sudah harus diupayakan saat ini, meskipun masih banyak diskriminasi terjadi di sana sini. Sekarang bukan lagi jamannya laki-laki yang harus mendominasi dan dominan dalam segala bidang. Persoalan kekerasan dalam rumah tangga masih banyak dialami oleh perempuan Indonesia, terutama kekerasan psikologis dan ekonomi. Persoalan utama perempuan menurut saya adalah ekonomi, sehingga hal yang harus dilakukan untuk menyelesaikan atau mengurangi masalahnya adalah perbaikan ekonomi; perempuan lebih punya waktu untuk peningkatan kapasitas. Pendidikan harus dikedepankan untuk meneruskan perjuangan Kartini yang juga dimulai dari bangku pendidikan. Guru harus mengajarkan persamaan permpuan dan laki-laki. Yang paling penting, pemberdayaan bukan hanya ditujukan bagi perempuan, tetapi juga mengubah pemahaman laki-laki.
Dalam kondisi seperti ini yang bisa kita lakukan adalah memantau implementasi UU tersebut. Apakah kehawatiran kita soal pembatasan berekspresi dan sebagainya terjadi dalam kenyataan? Kita harus pantau jangan sampai apa yang kita khawatirkan terjadi. Di daerah saya, UU Pornografi ini gak ngaruh dan gak ada bekasnya. Di daerah, termasuk penegak hukum, mereka punya sense yang sama tentang apa itu pornografi. Jadi, buat kita yang hidup di daerah, UU seperti ini tidak perlu dipikirkan; banyak hal penting yang jauh lebih penting. Soal kebebasan busana, orang daerah punya kultur tersendiri; tidak perlu diaturpun mereka sudah dengan sendirinya tahu soal kepantasan di ruang publik. |
|
|
 |
Sri Mulyati, Sapa Institut , Bandung
Bagi saya, perjuangan Kartini adalah pendidikan; jadi, membuka akses pendidikan bagi perempuan. Kedua, perlawanan perempuan terhadap kekerasan, utamanya poligami. Kartini sendiri menyerah pada keadaan di mana ia mau dipoligami. Kartini tidak mampu untuk berkata tidak. Hal tersebut menjadi titik kelemahan perjuangan Kartini. Catatan kritis saya yang ketiga adalah perlindungan perempuan dan pemenuhan hak-hak kesehatan reproduksi. Kartini sendiri meninggal pada saat melahirkan karena pemenuhan dan perlindungan terhadap kesehatan reproduksi perempuan masih sangat minim pada saat itu sehingga perempuan sulit mengaksesnya. Dalam hal pendidikan, perempuan juga masih sangat tertinggal. Laki-laki lebih mendominasi dunia pendidikan, sementara banyak perempuan yang masih buta huruf. Upaya yang bisa dilakukan adalah kebijakan; NGO tidak hanya melakukan pengorganisasian tetapi juga advokasi berbasis komunitas. Pesan saya untuk perempuan Indonesia adalah teruslah berjuang, jangan menyerah. |
|
|
 |
Merdian Rizki Meirani, Executive Project Manager, Jakarta
Menurut saya, perjuangan Kartini adalah mengangkat derajat kaum perempuan dari keadaan 3 M (masak, macak dan manak) agar lebih dihargai dan ada keadilan gender, bisa sadar sebagai perempuan di mana perempuan mempunyai persamaan dengan laki-laki dalam hal pendidikan, misalnya, tapi bukan yang bersifat kodrat, karena kodrat tidak bisa [disamakan]. Permasalahan terbesar yang dialami perempuan Indonesia adalah pendidikan. Perempuan Indonesia harus bisa mengeksplor apa yang mereka punya dan menunjukkan kemampuan dan keahliannya. Untuk perempuan Indonesia, saya berpesan, jangan banyak shopping ya. |
|
|
 |
Makmun, Aktivis Muhammadiyah (Jakarta)
Perjuangan Kartini menginspirasi banyak perempuan, sehingga mereka sekarang berhasil berdiri sama tinggi dengan laki-laki. Saya kagum dengan Kartini, pada jamannya dulu, dimana tidak banyak orang berpikir sepertinya, tapi Kartini melalui surat-suratnya yang ditulis, memperjuangkan hak perempuan untuk berpendidikan dan berperan dalam sektor publik. Mekipun sekarang perjuangan Kartini bisa dinikmati, dimana banyak perempuan sudah bisa menduduki posisi-posisi penting, namun disaat yang sama masih banyak perempuan yang tertinggal. Tapi saya yakin melalui pendidikan, dan tafsir ulang terhadap budaya maka pada tahun 2020 perempuan akan menjadi garda terdepan pembangunan bangsa dan negara Indonesia ini. |