Pekerjaan Rumah Tangga Bukan Pekerjaan “Kotor”: Sebuah Penegasan Ilmiah


15 March 2010 | Kategori: News Ticker, Referensi

Judul
: Doing the Dirty Work? The Global Politics of Domestic Labour
Penulis
: Bridget Anderson
Penerbit
: Zed Books
Tempat & Tahun
: London dan New York, 2000
Halaman
: viii + 213

Tidak banyak kajian akademis terhadap pekerjaan rumah tangga, apalagi dengan secara spesifik mengaitkannya dengan feminisme. Buku ini sedikit di antara hasil kajian akademik serius terhadap persoalan ini yang sangat penting untuk diapresiasi.

Di buku ini, Bridget Anderson memulai analisanya dengan memaknai pekerjaan rumah tangga (domestic labor) sebagai pekerjaan yang sangat vital dan sustaining. Namun, di satu sisi, Anderson mengakui bahwa pekerjaan tersebut seringkali direndahkan, dipandang tak berarti dan tak layak menjadi  bahan pertimbangan (demeaned and disregarded). Buku ini berkontribusi sangat besar, di antaranya, bagi perkembangan studi tentang pekerjaan rumah tangga dan pekerja rumah tangga bergaji (paid domestic worker) –dan karena itu juga penting bagi upaya membangun dasar pemahaman terhadap sumber dasar stereotyping dan diskriminasi terhadap pekerjaan ini dan pekerjanya. Lebih lanjut, lewat buku ini, Anderson ingin membuat penegasan ilmiah bahwa pekerjaan rumah tangga sama sekali bukan pekerjaan kotor (dirty work) seperti banyak dipandang stereotipikal oleh banyak orang.

Buku ini ditulis berdasarkan pengalaman dan penelitian lapangan terhadap kondisi kerja dan kehidupan pekerja rumah tangga migran di lima kota di Eropa, yaitu Athens, Barcelona, Bologna, Berlin dan Paris antara tahun 1995 hingga 1996. Anderson sendiri terlibat aktif dalam sebuah kelompok yang mengkampanyekan hak-hak pekerja migran yang berbasis di Inggris. Di tingkat empiris, Anderson memetakan kondisi pekerja migran yang bekerja di ranah pekerjaan rumah tangga mulai proses rekruitmen, melakukan pekerjaan, gaji, jam kerja, living arrangement dan relasi kerja dengan majikan. Di sini, Anderson ingin menguji beberapa hipotesis terkait status imigrasi pekerja (relasinya dengan Negara) dan apakah mereka tinggal atau tidak dengan majikannya (hubungan dengan majikan) di mana keduanya merupakan variabel kunci dalam menentukan kondisi hidup dan kerja mereka.

Pada level teoritis, Anderson mempertanyakan kurangnya alat dan perangkat konseptual untuk mendeskripsikan lebih jauh bentuk-bentuk “tradisional” perkerjaan domestik atau untuk mendeskripsikan pengalaman perempuan dalam ranah domestik, termasuk khususnya pengalaman perempuan kelas menengah berhadapan dengan pekerjaan ini. Anderson meletakkan analisanya dalam kerangka kelas, ras dan kewarganegaraan yang berpengaruh pada pekerjaan domestik menjadi gendered dan racialised. Bagi Anderson, pekerja rumah tangga upahan menunjukkan pengalaman yag bervariasi satu sama lain, yang dibedakan menurut ras, kelas dan usia mereka.

Yang menarik, Anderson menganalisa pekerja rumah tangga baik yang bekerja cleaning (bersih-bersih), baby sitting (mengasuh) atau “servant” (melayani) pada fungsi caring-caring-nya, bukan pada labor power-nya yang memang tidak setara antara majikan dan pekerja. Menurutnya, yang mendorong para majikan mempekerjakan para PRT bukanlah labor power dalam relasi kerja keduanya, tapi lebih pada apa yang disebutnya sebagai personhood. Anderson menegaskan analisanya ini dengan mengaitkan relasi intim antara tubuh, property dan labor. Di sini, menurutnya, akan selalu muncul kontradiksi antara ide tubuh sebagai bagian dari personhood dan ide tubuh sebagai property.

Anderson membuka lagi ruang diskusi tentang publik dan privat. Segregasi yang sangat tajam antara keduanya memunculkan polarisasi dan dualisme yang mendukung dan menguatkan kuasa patriarkhi. Anderson lalu menganalisa perbedaan kuasa alias power di antara para perempuan. Dalam pandangannya, sebagian perempuan mempunyai kuasa yang lebih dibandingkan sebagian yang lain. Anderson membangun sebuah teori dengan melihat idiom materialistik di mana relasi power digambarkan sebagai power terhadap komoditi daripada power terhadap person. Dalam konteks pekerja rumah tangga migran, di mata Anderson, majikan mempraktekkan kedua bentuk relasi power tersebut.

Poin lain yang menarik dalam buku ini —yang hingga kini masih menjadi perdebatan—adalah seputar isu produktif, tidak produktif dan reproduktif. Diskusi tentang persoalan ini mula-mula berkembang pada tahun 70-an dalam kerangka hubungan antara pekerjaan rumah tangga dan kapitalisme yang berorientasi pada pemikiran tentang produktivitas pekerjaan rumah tangga. Banyak orang menyebut pekerjaan rumah tangga sebagai pekerjaan tidak produktif dan tidak memberikan sumbangan signifikan bagi perkembangan ekonomi dan kehidupan sosial. Pandangan ini semakin menyudutkan pekerjaan rumah tangga, membuatnya lebih ”invisible” atau tidak terlihat. Kelompok feminis berargumen bahwa pekerjaan rumah tangga merupakan kegiatan memroduksi komoditas yang tentunya menjadi sangat penting bagi keberlangusngan hidup dan kapitalisme itu sendiri, yaitu dalam bentuk labor power.

Dalam mendefinisikan pekerjaan rumah tangga, Anderson memakai dua pendekatan, yaitu pekerjaan rumah tangga yang tidak dibayar dan yang dibayar. Persoalan inipun lumayan menjadi isu hangat yang sering diperdebatkan di kalangan feminis dan terus mengalami kontestasi sejak sekitar tahun 70-an. Menurut Anderson, masalah definisi pekerjaan rumah tangga dan pekerjanya bukanlah masalah teoritis yang sederhana. Banyak kondisi negatif dialami perempuan yang menjadi pekerja rumah tangga sebagai konsekuensi kurang kejelasan deskripsi kerja mereka –sebagai bagian dari rumitnya mendefinisikan pekerjaan rumah tangga– dan hal ini membawa implikasi serius bagi kondisi hidup dan kerja para pekerja rumah tangga perempuan itu. Dari hasil wawancaranya dengan para pekerja rumah tangga di beberapa kota di Eropa itu, Anderson mengangkat isu tidak dimasukkannya pekerja rumah tangga dalam statistik nasional.

Anderson dalam buku ini juga mengangkat warisan perbudakan yang dalam analisanya, dikaitkan dengan ”budak domestik” atau pelayan rumah tangga dan membandingkannya dengan pekerja rumah tangga yang hak-haknya diabaikan dan terpasung. Anderson juga memberi gambaran lain tentang kondisi kerja pekerja rumah tangga yang mengalami berbagai pelanggaran dan pengabaian hak, kekerasan, pelecehan, penghinaan, perkosaan, pengucilan, kondisi kerja yang buruk, kerja tanpa batasan waktu, tidak ada fasilitas dan jaminan keamanan dan kesehatan. Anderson bahkan menyebutnya sebagai jenis perbudakan kontemporer. Tentu tesis ini masih perlu diuji lebih dalam, namun sebagai bahan renungan dan analisa dengan melihat kenyataan kasat mata yang dialami para PRT (bahkan di sekitar kita), kita juga tidak dapat mengabaikannya begitu saja.

Konsep ”bagian dari keluarga” alias ”part of the family” dipertanyakan sangat kritis dan tajam oleh Anderson. Hal ini berkaitan dengan digunakannya konsep ini oleh para majikan dalam membangun relasi kerja dengan para PRT. Para majikan seringkali mengganggap dan memperlakukan PRT-nya sebagai anggota atau bagian keluarga, ”memperkenalkan” kepada tetangga bahwa PRT mereka adalah keluarga mereka. Lalu, pertanyaan kritis Anderson, ketika liburan atau pergi, apakah para PRT itu akan bebas tugas atau tetap melayani mereka dan menjalankan tugasnya sebagai PRT? Apakah memang tidak ada ekploitasi di sini? Itulah beberapa pertanyaan dasar yang diajukan Anderson untuk menguji sejauhmana konsep part of the family itu tidak memunculkan persoalan negatif dalam hubungan kerja PRT.

Anderson memaparkan berbagi pengalaman organisasi-organisasi yang mendukung perjuangan hak-hak PRT dan melakukan advokasi terhadap masalah ini. Ada beberapa hal yang dilakukan, di antaranya, memperjuangkan kontrak kerja antara PRT dan majikan untuk mengatur hubungan kerja keduanya dan menghindari eksploitasi. Selain itu, profesionalisasi keterampilan melalui training dan pendidikan sebagai program penting lain. PRT diharapkan dapat memiliki kualifikasi formal, sebagai salah satu solusi bahwa selama ini pekerjaan rumah tangga dikonstruksi sebagai lapangan pekerjaan yang unsklled. Keterampilan profesional dan keahlian yang memadai bisa meningkatkan bargaining power mereka dengan majikan yang ”memudahkan” pemenuhan hak-hak mereka sebagai pekerja.

Akhirnya, dengan luasnya bahan analisa yang dipaparkan Anderson, buku ini layak menjadi salah satu referensi utama dalam kajian dan upaya advokasi persoalan pekerja rumah tangga, termasuk di Indonesia. (Diah Irawaty)

ARTIKEL TERKAIT :



Tags : Share on Facebook


© 2012 Komnas Perempuan | Jl Latuharhary 4B, Jakarta 10310 Tel: 62-21-3903963 Fax : 62-21-3903922 |
Kirim saran dan kritik ke redaksi@komnasperempuan.or.id
119 queries. 0.867seconds.