Ke Arah Pembangunan Berkeadilan Gender: Menguatkan Partisipasi Laki-laki
5 January 2010 | Kategori: Referensi

| Judul | : | Masculinities Matter! Men, Gender and Development |
| Penulis | : | Frances Cleaver, Prem Vijayan, Chris Dolan dkk. |
| Editor | : | Frances Cleaver |
| Penerbit | : | Zed Books |
| Tahun dan Kota Terbit | : | 2002, London dan New York |
| Jumlah Halaman | : | 242 halaman |
| ISBN | : | 0 86486 612 7 |
Buku ini mengupas dengan cukup apik persoalan-persoalan pembangunan dan relasi gender dan mendekonstruksi makna keadilan dan kesetaraan gender yang seolah-olah ajek. Pembangunan memang tidak netral gender dan netral kepentingan; ia tidak hadir di ruang hampa; ia jelas merupakan konstruksi para aktor yang mempunyai kekuasaan, otoritas dan kepentingan.
Kita tentu masih ingat Amartya Sen yang melontarkan ide pembangunan adalah kebebasan. Kebebasan memang menjadi hak dasar semua orang di mana semua orang bebas memilih tanpa ada tekanan dan paksaan. Bila orang sudah tidak dapat lagi menghirup udara dan menikmati kebebasan, lalu bagaimana hidupnya akan sejahtera dan bahagia? Kebebasan tidak akan dapat dinikmati bila satu kelompok masih terdominasi oleh kelompok lainnya, satu kelompok merasa lebih mempunyai otoritas atas lainnya dan satu kelompok masih menganggap bahwa satu kelompok tersebut lebih tinggi status dan perannya dibandingkan yang lainnya.
Buku ini mencoba mengungkapkan situasi perempuan dan laki-laki yang sebenarnya menjadi korban pembangunan, situasi perempuan yang lebih banyak dirugikan. Perempuan dan laki-laki dibedakan peran dan fungsinya begitu juga akesnya terhadap sumberdaya apapun, politik, ekonomi, sosial dan budaya, dll. Editor buku ini mengakui bahwa memang benar gerakan perempuan yang telah membuat perspektif gender menjadi muncul ke permukaan sebagai alat analisis, membuat kita sadar, pembangunan memang sebuah proses yang bergender dan digenderkan.
Apakah semua laki-laki diuntungkan dalam proses pembangunan dari konstruksi dan “aturan” gender yang ada? Jawabannya tidak. Hegemoni maskulinitas yang dibahas dalam buku ini sangat kuat mengakar hingga tidak tampak dan tidak disadari bahwa ia telah melahirkan ketidakadilan gender, baik secara materi maupun ideologi, yang korbannya tidak hanya perempuan –meski mereka adalah korban utamanya. Dalam pembanguan yang tidak berperspektif gender, laki-laki dituntut menjadi “aktor” tanpa mempertimbangkan kemampuan dan kapasitasnya.
Lalu, apakah untuk memperbaiki kehidupan dan kondisi perempuan, tidak dibutuhkan upaya dari laki-laki juga? Michel Kimmel, misalnya, dalam buku ini percaya bahwa tanpa melibatkan laki-laki, upaya untuk membawa keadilan gender akan mengalami kegagalan. Bagaimana menyadarkan laki-laki bahwa pekerjaan rumah tangga harus di-share antara perempuan dan laki dan bagaimana meminta kuasa yang selalu digenggam erat-erat oleh laki-laki untuk dibagi kepada perempuan, akses terhadap segala sumber daya dan kontrol terhadap pengambilan keputusan jika para laki-laki itu diabaikan sebagai target dalam proses perubahan paradigma pembangunan agar lebih berperspektif gender?
Beberapa orang percaya bahwa perempuan akan mempunyai dan mendapatkan power dengan mengambil dan merebutnya dari laki-laki. Beberapa yang lainnya meyakini bahwa perempuan akan lebih berdaya bila laki-laki yang akan memberikan dan membagi power itu. Kemitraan strategis sangat dibutuhkan termasuk kemitraan gender untuk mewujudkan keadilan sosial dan gender, seperti ditawarkan Frances Cleaver, salah seorang penulis buku ini. Kemtraan yang didasarkan pada keseteraan gender akan menjadi hal preventif bagi terjadinya perebutan power atas dasar “konflik,” bukan atas dasar kesadaran gender.
Krisis maskulinitas telah banyak terjadi di hampir semua penjuru dunia. Dengan munculnya fenomena perempuan sebagai kepala rumah tangga, low attainment anak laki-laki dalam pendidikan, bertambahnya jumlah perempuan di pasar tenaga kerja, hilangnya role model bagi anak laki-laki dalam keluarga merupakan contoh nyata bahwa ada pergeseran dalam ekonomi, struktur sosial dan komposisi rumah tangga yang juga harus diperhatikan. Sementara masih banyak fakta yang menunjukkan di belahan dunia manapun perempuan masih memainkan peran gender “tradisional,” namun di beberapa tempat, perempuan dan laki-laki dapat bertukar dan berbagi peran. Dengan demikian menegosiasikan relasi dan peran gender menjadi penting untuk diperhatikan, agar proses pergesaran ini mewujud pada bentuk-bentuk struktur sosial baru yang lebih berkeadilan gender.
Pemberdayaan perempuan dan menciptakan keadilan gender tidak dapat diwujudkan tanpa kerjasama dan partisipasi aktif laki-laki sebagaimana juga perempuan. Laki-laki bukanlah kelompok yang harus ditakuti dan dimusuhi; mereka adalah kelompok potensial yang dapat diajak untuk bersama-sama mengubah dunia yang diskriminatif dan menciptakan keadilan sosial dan keadilan gender. Chris Dolan menceritakan tentang model maskulinitas di Uganda Utara yang juga terjadi di seluruh dunia di mana ada peran dan harapan terhadap perempuan dan laki-laki. Maskulinitas sendiri tidak hadir tanpa perempuan.Untuk disebut dan menjadi laki-laki, ia diharapkan dan harus menjadi ayah dan suami, misalnya dan menunjukkan kontrol mereka terhadap isteri dan anak mereka, memberikan nafkah kepda keluarganya atau bersikap seperti laki-laki dalam kategori yang diciptakan dan dipraktekkan masyarakat secara turun temurun. Dolan menyebutkan bahwa yang ada bukan masculinity yang tunggal tapi masculinities yang menunjukkan bahwa banyak cara untuk menjadi laki-laki. Maskulinitas inipun terjadi di antara sesama laki-laki, sesama perempuan dan perempuan-laki-laki. Hal ini tidak hanya terjadi antara laki-laki dengan perempuan, sehingga laki-laki tidak hanya dapat menjadi pelaku, namun iapun bisa menjadi korban, misalnya pada relasi laki-laki militer dengan laki-laki sipil atau dalam bentuk dan relasi apapun yang tidak seimbang di mana salah satu mengontrol yang lainnya.
Marilyn Thomson menawarkan upaya perubahan stereotip gender melalui pendidikan di antara anak-anak, karena pembedaan gender dalam tingkah laku dan beraktivitas dan permainan antara anak perempuan dan laki-laki yang bermula pada usia dini. Isu lain yang juga penting adalah kaitannya dengan perilaku seksual laki-laki dan kesehatan reproduksi karena merupakan pusat untuk bekerja di bidang kesehatan seksual dan reproduksi. Umumnya, keretanan terhadap penyakit menular seksual (sexually transmitted infections) yang dihubungkan dengan relasi kuasa gender yang menyulitkan bagi perempuan dan anak untuk bernegosiasi seks yang aman. Thomson menyadari bahwa mengubah tingkah laku dan perilaku dan mendorong relasi gender yang adil merupakan proses jangka panjang. Namun, bukan berarti tidak mungkin dilakukan. Dengan demikian proses itu harus terus menerus dilakukan tanpa henti dan tetap berpikir optimistik sehingga kita termotivasi untuk lebih berupaya membuat percepatan ke arah sana.
Pada akhirnya, ketika kesadaran gender sudah tumbuh di antara anggota masyarakat, perempuan dan laki-laki, anak-anak dan dewasa, upaya mewujudkan proses dan hasil pembangunan yang berkeadilan gender dan berkeadilan sosial akan lebih mudah dilakukan. Lewat buku ini, kita disadarkan untuk terus memiliki harapan akan sebuah perubahan dan terus mengupayakan semua ini, tanpa kenal lelah, tanpa batas (Diah Irawaty).
| Tags : partisipasi | Share on Facebook |








