Click to listen highlighted text! Powered By GSpeech

Sum, Demi Sebuah Konvensi Migran yang Terabaikan

Foto-1sum

Kesenyapan malam yang biasanya menghinggapi kantor Komnas HAM di bilangan selatan Menteng malam itu lenyap. Sebuah panggung berukuran 10×8 meter berdiri tegak di pelataran antara dua gedung; Komnas HAM dan Komnas Perempuan. Beberapa lampu berukuran besar menyorot terang ke arah panggung, satu set kursi dan meja, radio dan beberapa bingkai foto tertata rapi menghiasi panggung tersebut. Hari itu, sebuah gawe besar nampak sedang digelar.

Satu persatu orang mulai berdatangan, di antaranya, Jumhur Hidayat, Ketua BNP2TKI; Rahma Irianti dari Bappenas; Ifdal Kasim, Ketua Komnas HAM; Rositawati dari Depnakertrans; Abdul Haris Semendawai, Ketua LPSK; Rieke Diah Pitaloka, Anggota DPR RI, perwakilan Kejaksaan Agung, Komunitas Pekerja Migran, Komunitas Perempuan Thionghoa, Lembaga Swadaya Masyarakat dan tak terhitung lagi siapa saja mereka.

Sesaat kemudian seluruh lampu dimatikan. Dari kelebatan banyak orang, tiba-tiba nampak seorang perempuan bertubuh kecil naik ke panggung. Dalam suaranya yang mengguratkan ironi teramat kontras, terdengar kalimat:

“Sehabis musim panen, waktu itu, aku jadi pergi ke Saudi. Bapak menjual beberapa ternak kami untuk mengurus kepergianku. Kang Min dan Mbak Rubi yang membantu mengantarkanku kesana-kemari untuk mencari syarat-syarat; mengurus paspor, membuat surat keterangan ini dan itu. Hatiku deg-degan menantikan hari itu tiba. Perasaanku bercampur gembira sekaligus sedih. Gembira karena akhirnya aku akan bisa bekerja meskipun cuma jadi pembantu di Saudi. Aku akan mendapatkan uang yang cukup untuk mengganti ternak bapak yang telah dijual, mengirim uaang ke rumah dan aku yakin aku juga bisa membeli sawah barang sepetak sekembalinuya aku dari Saudi.”

Itulah monolog awal yang dipentaskan oleh Bernadetta Verry Handayani dari Teater Garasi. Pementasan teater monolog berjudul Sum: Cerita dari Rantau ini adalah bagian dari kampanye panjang yang dilakukan oleh Komnas Perempuan bekerja sama dengan Teater Garasi untuk mendorong Pemerintah Indonesia segera meratifikikasi Konvensi Internasional Pekerja Migran dan Keluarganya tahun 1990.

Sekian lama Komnas Perempuan bersama dengan lembaga dan masyarakat peduli buruh migran melakukan kampanye untuk mendorong Pemerintah Indonesia mempercepat ratifikasi Konvensi Migran, yang akan menjadi payung bagi perlindungan dan penegakan hak-hak buruh migran. Sayang hingga hari ini, belum ada tanda-tanda bahwa pemerintah akan mengambil sikap tegas terhadap para buruh migran yang kerap kali disebut sebagai pahlawan devisa.

Teater ini menggambarkan bagaimana para gadis muda yang tidak sempat mengenyam pendidikan tinggi, terpaksa mengalihkan tanggung jawab orang tua mereka kepundaknya. Mereka menyadari tidak ada lapangan kerja di tanah air yang mau menerima seorang gadis yang hanya lulusan SMU, SLTP apalagi SD. Bukan hanya karena tidak punya keterampilan, tapi keharusan memberikan sejumlah uang kepada perusahaan agar diterima kerja, juga menjadi persoalan yang tidak akan pernah bisa mereka selesaikan.

Tak ayal, setiap tahun ribuan perempuan terbang ke sejumlah negara penerima “buruh kasar” pekerja rumah tangga, pencuci piring di warung, buruh bangunan dan seterusnya. Tak mereka hiraukan kabar berita siang dan malam yang mengulas satu persatu buruh migran yang tidak mendapatkan upah, dipenjarakan, disiksa dengan tidak manusiawi, diperkosa, bahkan terkadang berakhir dengan kematian.

Rieke Diah Pitaloka anggota DPR RI 2009-2014, yang malam itu menyampaikan orasi, memberikan apresiasi terhadap upaya Komnas Perempuan dan Teater Garasi untuk terus mendorong perlindungan buruh migran.

Dalam orasinya, Rieke menegaskan bahwa dengan meratifikasi Konvensi ini memang tidak akan memberikan keuntungan secara ekonomi kepada Indonesia. Namun, penghormatan, perlindungan, penegakan dan pemenuhan HAM di tataran nasional wajib dilaksanakan pemerintah yang mengaku menjunjung tinggi Pancasila dan UUD 1945.

Akhirnya, kita semua berharap semoga pemerintah Indonesia, khususnya pemerintah yang akan segera terbentuk, tidak lupa akan janjinya melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. [Nunung Qomariyah)

Foto-2sum

Click to listen highlighted text! Powered By GSpeech