Click to listen highlighted text! Powered By GSpeech

Perempuan dan Puasa

Puasa adalah bulan penuh berkah. Lebaran adalah hari kemenangan. Pada saat puasa, kita bahagia melakukan segala kebaikan. Bagi perempuan-perempuan, puasa memberi mereka tambahan kerja rumah tangga. Harus menyiapkan makan buka dan sahur. Bagi perempuan-perempuan, puasa juga bisa berarti tambahan rejeki, saat mereka punya kesempatan menjual makanan buka. Bagaimana suara mereka menyambut berkah puasa ini? Berikut petikan wawancara beberapa perempuan dengan Diah Irawaty dan Nunung Qomariyah dari Komnas Perempuan.


  • Eko Suharyono (35 tahun)
    Sales Marketing, Tangerang

    Isteri saya memang berat bebannya karena kami mempunyai anak kecil yang masih harus dijaga, apalagi tidak ada yang bantuin sehingga kadang kami sering meminta bantuan Ibu saya untuk menjaga si kecil. Kalau saya bilang sih, ya memang berat ya tugas dan tanggungjawab isteri, terutama pada saat bulan puasa ini karena harus menyiapkan makanan sahur dan berbuka. Kalau saya sih, mau aja jagain si kecil, karena suka kasihan sama isteri saya. Kadang saya juga bantuin mencuci piring. Beban istri di bulan puasa dan nanti lebaran pastilah bertambah. Masalah kekerasan dalam rumah tangga atau kekerasan lainnya terhadap perempuan seperti yang mba bilang, ya tidak boleh terjadi dan harusnya bukan hanya di bulan puasa saja sih. Hati, fikiran dan gerakan kita harus bisa dikontrol. Saya sering mendengar kekerasan dalam rumah tangga dimana suami galak sama isteri, mukulin dan marahin isteri. Kadang kita berantem sih. Mungkin karena isteri saya capek kerja di rumah dan ngurus anak ya jadi cepat panas, tapi gak sampai pukul memukul.


  • Warsupi (43 tahun)
    Pekerja Rumah Tangga /PRT part time, Tangerang

    Semua pekerjaan rumah tangga ya biasanya saya kerjakan sendirian. Anak saya ada, tapi gak ada yangbantuin. Anak perempuan saya yang paling besar juga selain sekolah juga bekerja sebagai pembantu (pekerja rumah tangga, Red), anak lainnya gak pada mau bantu, yang laki-laki apalagi. Kalau suami saya kerja seadanya aja, kalau dipanggil buat ngecat atau jadi buruh bangunan atau diminta menanam tanam-tanaman, ya dijalani saja, gak selalu ada juga tiap hari. Rumah saya kan juga sangat kecil jadi pekerjaannya gak gitu beratlah, hanya memang beban saya jadi bertambah pada saat sahur dan berbuka puasa, apalagi lebaran. Pinginnya sih ada yang bantuin, he..he..


  • Rusdari Kurniawati (43 tahun)
    Cleaning Service, Jakarta

    Puasa memang lebih capek sih Mbak, tapi saya biasa-biasa aja dan senang-senang aja karena itu kan udah tugas dan kewajiban saja. Kalau hari biasa kan saya juga masak dan menyiapkan makanan dan semuanya pekerjaan rumah tangga selain saya juga kerja. Saya biasa bangun lebih awal, tapi di bulan puasa memang saya bangun jam 2:00 pagi dan menyiapkan makanan sahur. Setelah pulang kerja, saya mesti menyiapkan makanan berbuka puasa. Ingin sih dibantuin sama suami mba, tapi suami saya mana mau bantuin, katanya udah capek kerja. Belum pernah suami saya membantu. Ya, saya jalani aja, udah biasa kok.


  • Marwani (58 tahun)
    Ibu Rumah Tangga, Jakarta

    Meskipun saya punya pembantu (pekerja rumah tangga, Red) tapi saya menyiapkan makanan untuk sahur dan berbuka sendirian, anak-anak saya pada kerja semuanya. Suami saya sudah tua. Meski saya harus menyiapkan semuanya, saya tidak merasa berat sama sekali karena menurut saya berkah. Itu kan tugas Ibu dan isteri untuk mengurus semua pekerjaan rumah tangga. Waktu muda dulu, bapak mau menyeterika dan belanja tapi sekarang udah tua, jadi gak bisa ngapa-ngapain. Iya, memang puasa harus menahan diri. Saya gak pernah disakiti Bapak, alhamdulillah, paling marah aja sih, tapi nanti juga diam sendiri. Bapak memang orangnya emosian. Ya, harusnya di bulan puasa gak boleh marah dan mukul sih dan gak hanya di bulan puasa aja harusnya, di bulan-bulan lain juga.


  • Dariati (45 tahun)
    Penyapu Halaman di Perumahan Bali View

    Kalau capek sih capek ya tapi kan itu tugasnya saya sebagai isteri, menyiapkan makanan sahur dan berbuka tapi seneng-seneng aja karena menyiapkan buat keluarga. Iyalah bebannya nambah di bulan ramadhan ini apalagi nanti lebaran. Kalau ada yang bantuin sih senang tapi kan anak-anak sekolah dan suami saya kerja cari uang. Saya juga kerja tapi saya kan isteri dan Ibu jadi tugasnya memang lebih berat.


  • Eni (52 tahun)
    Penjual Toko Kelontong Jakarta, Asal Cirebon

    Suami saya sudah meninggal 10 tahun yang lalu, jadi saya tidak mudik ke Cirebon. Semua anak saya yang jumlahnya tujuh juga sudah berkumpul di Jakarta. Kalau lebaran saya suka sedih, karena gak bisa kasih uang jajan ke anak dan cucu saya. Boro-boro, saya kerja cuma ikut anak. Seperti ini, bantuin jaga warung kelontongnya. Dulu sehari bisa dapat 200-300 ribu. Tapi sejak setahun yang lalu dagangan kami gak laku, paling sehari cuma dapat Rp.75.000. Uang segitu buat belanja mah gakcukup, akhirnya kita hutang lagi. Makanya saya nangis, mau beliin baju cucu saya saja gak bisa.

    Waktu suami saya masih hidup, saya mudik ke Cirebon. Senang rasanya berkumpul dengan anak-anak dan saudara. Ribet sih, tapi tetap seneng. Suami saya termasuk orang yang suka membantu. Dia gak mau lihat saya kecapean. Jadi pekerjaan rumah seperti mencuci baju, piring di bantuin sama suami saya. Kami tidak pernah mandang ini pekerjaan laki-laki dan ini pekerjaan perempuan.


  • Aminah (27 tahun)
    Ibu Rumah Tangga, Jakarta

    Suami saya kerja di Tangerang. Kalau saya asli sini, Jakarta. Lebaran biasanya suami saya mudik ke sini. Maunya lebaran sederhana saja, tapi saya punya anak kecil. Namanya anak kecil kalau lihat temannya punya baju pasti juga kepengin. Kasihan kalau tidak dibelikan. Murah kok, saya belikan saja diemperen toko, harganya 15-30 ribu rupiah. Yah gak ada uang diada-adain Mbak. Biasanya sebulan sebelumnya saya sudah nabung. Lumayan pas lebaran begini kita punya uang 200-300 ribu, cukuplah buat beliin baju anak, suami dan saya, juga untuk membeli sedikit makanan. Meskipun tidak punya, kalau ada tamu tetap saya kasih makanan seadanya.

    Kebetulan suami baik, jadi kalau saya lagi repot dia suka bantuin kerjaan rumah, meskipun sudah capek. Kadang juga jagain anak kalau saya sedang masak.


  • Ratinah (37 tahun)
    Ibu Rumah Tangga di Jakarta, Asal Jawa Barat

    Persiapan lebaran banyak. Beliin baju anak, suami, keponakan juga. Paling total biaya untuk lebaran termasuk mudik ke Jawa Barat 1,5-2 juta lah. Untunglah suami kerja di PT. Jasa Marga, jadi lumayan, dapat THR, yang langsung habis.

    Saya “tidak bekerja”, jagain dua anak saya ini. Jadi semua pekerjaan rumah saya yang pegang. Kecuali nyuci saya suka bayar orang, gak kuat. Suami mah gak pernah bantuin, kan memang bukan pekerjaan laki-laki. Suami saya sudah capek kerja di kantor. Tapi sebetulnya kalau dibantuin saya juga mau. Waktu lebaran banyak tamu, kerjaan bertambah dan saya gak punya pembantu. Jadi kalau saya betul-betul repot paling saya minta bantuan suami untuk jagain dua anak saya ini.


  • Nurdin (50 tahun)
    Pengemudi Bajaj di Jakarta, Asal Tegal

    Saya habis sakit 40 hari di Tegal. Tapi karena saya masih punya anak kecil kelas satu, jadi saya harus balik ke Jakarta untuk narik bajaj. Saya suka gak tega kalau lebaran begini gak beliin anak saya baju. Sebetulnya anak-anak saya sudah besar, tapi mereka gak perhatian sama orang tua. Saya ini ke Jakarta masih dalam keadaan sakit, tapi anak-anak saya tidak ada yang mencegah. Istri saya dirumah juga tidak bekerja. Jadi hanya saya yang cari uang. Namanya juga narik bajaj, kadang dapat uang kadang juga tidak. Paling-paling sehari dapat 20-30 ribu, dipotong bensin 15 ribu, belum makan dan rokoknya. Sebulan kadang-kadang saya bisa kirim uang ke kampung 500 ribu. Kalau lagi mujur nasibnya bisa kirim 800 ribu. Tapi kalau lebaran ini gak tahulah bisa kirim apa nggak, yang penting bisa beliin baju anak saya yang kecil, nanti saya kirim saja. Saya gak usah mudik, mahal ongkosnya.






















































Click to listen highlighted text! Powered By GSpeech