Ninuk Widyantoro:
“Saat akan menikah, tidak usah memikirkan mahar, yang paling penting, kita peduli kesehatan pasangan kita!”


5 August 2009 | Kategori: Berita, Pendapat Pakar

Hak dan kesehatan reproduksi dan seksual merupakan sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Namun, banyak persoalan, seperti tabu dan berbagai pandangan stereotype dalam masyarakat yang membuat pembicaraan mengenai kesehatan dan hak reproduksi dan perempuan justru disalahpahami sebagai pembicaraan mengenai hubungan seks yang sempit. Sementara, Pemerintah Indonesia yang sangat rajin menandatangani berbagai deklarasi dan kesepakatan internasional belum sepenuhnya memenuhi kewajiban terkait hak dan kesehatan reproduksi, termasuk pemenuhan hak atas informasi dan layanan kesehatan seksual dan reproduksi. Akibatnya, kesalahpahaman yang justru membahayakan kesehatan bahkan berakibat kematian masih mudah dijumpai. Ninuk Widyantoro dari Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP), Jakarta, yang aktif melakukan advokasi hak dan kesehatan reproduksi dan seksual berbagi pandangan dan pemikirannya seputar isu hak dan kesehatan reproduksi dan seksual dalam wawancara yang dilakukan Diah Irawaty dari Redaksi Komnas Perempuan pada Rabu, 29 Juli 2009 di kantor YKP. Berikut selengkapanya:

Istilah kesehatan dan hak reproduksi sebenarnya sudah mulai populer di masyarakat Indonesia. Biar lebih jelas, apa sebenarnya hak dan kesehatan reproduksi itu? Apa masalah utama terkait masalah ini dalam masyarakat kita?

Pembicaraan mengenai kesehatan reproduksi tidak dapat dipisahkan dari pembahasan mengenai seksualitas. Terminologi yang utuh adalah kesehatan dan hak seksual dan reproduksi. Pembicarannya harus utuh, tidak dapat dipisah-pisahkan. Orang seringkali salah persepsi, kalau kita bicara seks, selalu dipikir itu adalah hubungan seksual dan mengajarkan berhubungan seksual. Kita seringkali kampungan dan takut dengan kata-kata seks sehingga persoalan seks tidak diajarkan. Akibatnya, tidak ada pemahaman yang utuh, kekacauan pemahaman tentang seks dan seksualitas dan kesehatan reproduksi yang berakibat negatif terhadap kesehatan reproduksi masyarakat.

Seks adalah perbedaan biologis, perbedaan dari segi anatomi antara laki-laki dan perempuan. Singkatnya, apa berbedaan laki-laki dan perempuan secara anatomi, ketubuhan. Tentu, yang beda hanya dari segi organ reproduksinya; kalau organ-organ lainnya sama, seperti mulut, mata, hidung, jantung dan hati. Yang membedakan jenis kelaminnya atau yang disebut perbedaan seks adalah perbedaan organ reproduksinya. Perempuan mempunyai payudara, vagina, rahim, saluran telur dan sel telur yang tiap bulan selama masa menstruasi dikeluarkan secara rutin. Sebaliknya, laki-laki punya penis, buah zakar, tempat di mana sperma itu diproduksi, mempunyai kantung air mani, prostat.

Sedangkan seksualitas menyangkut banyak hal, banyak aspek, tidak hanya perbedaan perempuan dan laki-laki saja, misalnya pembicaraan mengenai dorongan seksual sejak anak perempuan dan laki-laki mulai menunjukkan berfungsinya reproduksi. Kalau perempuan sudah menstruasi dan laki-laki sudah mimpi basah berarti mereka sudah bisa bereproduksi. Maksudnya, kalau mereka berhubungan seks, maka perempuan bisa hamil. Tetapi, apakah sehat untuk hamil? Misalnya, seorang anak di bawah umur 10 sudah menstruasi, apakah sehat jika ia hamil? Apakah sudah siap mentalnya? Sementara, tubuhnya masih terus berkembang untuk mencapai titik optimum, biasanya sekitar umur 20, sampai seluruh tubuh dan organ-organ reproduksinya benar-benar siap dan kualitas telurnya sudah baik, panggulnya sudah mulai membesar sehingga bayi bisa mudah lewat saat melahirkan.

Selain memberikan organ-organ reproduksi, Allah juga menyertakan rasa, atau perasaan yang sesuai untuk bereproduksi. Jadi itu alami; setelah perempuan menstruasi dan laki-laki (mimpi basah), tumbuh perasaan dan emosi, misalnya naksir. Yang tadinya biasa saja, perempuan dan laki-laki mulai naksir, ada rasa ingin diperhatikan, senang dipuji oleh orang tertentu. Itu membantu kalau proses reproduksi dimulai dengan bijaksana.

Pembicaraan seksualitas juga menyangkut identitas seksual. Apakah, misalnya, perempuan yang mempunyai organ-organ tertentu tadi merasa nyaman dengan tubuhnya? Laki-laki dengan struktur dan alat-alat organ reproduksinya juga merasa nyaman dengan itu semua? Saya senang dengan tubuhku ini, tapi ada remaja yang organ tubuhnya semuanya perempuan tapi tidak nyaman dan ingin menjadi laki-laki. Ada lagi istilah orientasi seksual. Misalnya, saya sebagai perempuan, kepada siapa ketertarikan seksual saya, apakah kepada seks yang beda atau kepada laki-laki. Laki-laki juga, apakah mereka tertarik kepada perempuan yang disebut heteroseks atau kepada yang sejenis alias homoseks.

Belum lagi kita membicarakan ekspresi seksual. Tadi sudah saya katakan, Tuhan melengkapi kita dengan perasaan-perasaan, membuat kita biasa mengekspresikan perasan, kebutuhan, keinginan, ingin diperhatikan oleh orang tertentu, sampai bagaimana caranya supaya kita diperhatikan: dengan mengirim surat, berdandan dan belajar hal-hal yang dia sukai atau gemari. Ekspresi itu dibarengi tingkah laku dan perilaku. Misalnya, kalau cuma mengirim surat dan menyatakan suka, mesra-mesraan, tidak berbahaya. Atau juga cuma nonton berduaan. Tetapi memang ekspresi yang diikuti perilaku itu juga bisa membahayakan kesehatan reproduksi kita. Jika kita mulai melakukan hal-hal, misalnya mulai petting, meraba-raba bagian tertentu dan kita membiarkan diraba-raba bagian tertentu itu yang kemudian meningkatkan hasrat seksual sampai melakukan hubungan seksual, maka kesehatan reproduksi kita menjadi terancam. Misalnya sampai tertular penyakit atau kehamilan yang tidak diinginkan. Penyakit menular tidak bisa dilihat tanda-tandanya dari luar. Kalau kita gak bilang, orang gak akan tahu.

Kalau mau dan siap melakukan hubungan seksual, masalahnya, how to protect karena ini bukan a single event (tindakan yang tidak ada akibatnya). Mungkin kita merasa siap untuk hamil sehingga orang tidak berfikir kita hanya menuruti hasrat dan emosi tanpa bisa mengekang. Kita seharusnya bisa mengekang emosi agar tidak terjerumus dalam keadaan yang membahayakan dan merugikan masa depan. Jadi kalau terbersit mau melakukan hubungan seksual, wait…wait…wait, apakah sudah siap untuk hamil –bagi perempuan– dan sudah siap punya anak bersama perempuan ini –bagi laki-laki? Jangan cuma asal berhubungan seks. Kalau memang belum siap, apa yang harus diperbuat, apa mesti di-cancel atau pakai pelindung? Belajar seksualitas adalah belajar menghormati tubuh kita sendiri, menjaga kesehatan kita sendiri dan kesehatan orang lain yang kita cintai. Jadi, seksualitas berarti banyak.


Bagaimana dengan kesehatan seksual dan kesehatan reproduksi?

Kesehatan seksual, kesehatan yang berhubungan dengan perilaku seksual kita itu, misalnya, bagaimana mengetahui tanda-tanda yang kita khawatirkan jika terjadi infeksi pada alat reproduksi, atau alat reproduksi mengeluarkan cairan berbau, apakah alat kelamin kita terasa gatal dan panas, mengeluarkan cairan berwarna. Perempuan mengeluarkan cairan pada masa subur. Mestinya cairan itu tidak berwarna, tapi kok ini kekuningan, kehijauan atau kecoklatan. Kita harus mulai waspada. Itu bisa saja bukan karena berhubungan seksual, tapi karena jorok, tidak bersih merawat alat-alat reproduksi, suka pakai alat tertentu yang bisa membuat infeksi, atau karena jamur, cebok dengan air tidak bersih, pakai celana tidak kering, pakai celana nylon, sehingga membuat lembab yang menimbulkan infeksi. Infeksi bisa terus menerus menyerang organ-organ reproduksi yang lain, mulai dari bawah, dari lahir, bisa ke dalam, ke luar, ke saluran telur, dan itu merugikan. Kalau kita ingin punya keturunan ternyata alat reproduksi kita bumpet di sana sini karena infeksi, luka dan borok yang ada di dalam, kita jadi malu. Ini bukan hal yang jorok, dan bukan hanya untuk perempuan, tapi juga laki-laki. Semua infeksi penyakit menular, kecuali HIV, sudah ada obatnya yang murah. Tapi, memang harus periksa, karena ada sipilis, ceker ayam, condiloma, yang penyebanya macam-macam, karena bakteri, virus atau jamur. Obatnya juga harus sesuai.

Ada lagi yang namanya hambatan-hambatan, seperti ejakulasi dini, mengeluarkan air mani sebelum penis masuk ke vagina. Itu bisa juga disebabkan penyakit tertentu, karena pikiran atau stres. Penyakit tertentu seperti diabet tidak memungkinkan laki-laki untuk ereksi, lalu kita memikirkan bagaimana berbicara dengan pasangan dan bagaimana memecahkannya. Masalah seperti ini tidak hanya selesai dengan berbicara pada dokter, tapi dengan psikolog dan konselor. Ada hubungan seks yang berbahaya. Sekarang ada virus HIV/Aids yang menular karena pertukaran cairan tubuh. Virus itu tinggal di darah, cairan vagina, sperma, jadi bagaimana melakukan hubungan seks kalau pasangan kita tertular virus tersebut. Bukannya tidak bisa berhubungan seks, tapi ada caranya dan harus dipelajari agar aman. Ketidaktahuan tentang hubungan seksual yang aman bisa membuat kehamilan tidak diinginkan. Sering kita tidak tahu cara kapan melakukan kontrasepsi, cara memakainya dengan benar, ada cara yang alami, apa kesulitannya, kita harus belajar karena tidak semua alat kontrasepsi cocok dengan kita dan kita harus tahu resikonya. Kasus kontrasepsi alami tergantung emosi individu. Seringkali laki-laki menyalahkan isterinya; suaminya bilang, sudah mencabut penisnya. Apakah laki-laki tahu seberapa banyak spermanya, bagaimana bisa memastikan ratusan juta tidak masuk satupun? Semua harus dipelajari. Ada lagi cara hormonal, misalnya suntik, pil, susuk; ada hormon yang dimasukkan ke dalam tubuh. Kalau kondisi tubuh tidak cocok dengan hormon yang dimasukkan, maka akan timbul efek samping, seperti mual, pusing, flek-flek. Dulu, ada efek samping berupa flek yang membuat perempuan malas memakai kontrasepsi. Sekarang, efek itu sudah bisa diatasi. Juga harus diperhatikan, mengintervensi hormon dalam pemakaian selama dua tahun akan menurunkan libido perempuan. Kalau sampai perempuan sampai tidak bernafsu, harus menjadi perhatian. Hal seperti ini harus diketahui suami, sehingga perlu waktu bagi isteri untuk istirahat memakai hormon dan ganti suami yang pakai kondom. Kondom yang sering disebarkan gratis mempunyai dual function, termasuk melindungi dari HIV dan penyakit seksual menular; jadi memang agak tebal.

Perempuan memerlukan waktu untuk bisa terangsang penuh. Apa yang harus dilakukan laki-laki untuk merangsangnya? Misalnya, dengan kata-kata manis, dipegang-pegang bagian-bagian tertentu atau mungkin perempuan mempunyai preferensi yang lain. Itu juga perlu dipelajari dan dikomunikasikan. Belajar hal ini berarti menghormati pasangan kita masing-masing. Membicarakan kesehatan reproduksi yang utuh payungnya adalah membicarakan seksualitas: bagaimana kesantunan laki-laki dan perempuan, apa maksudnya menikah, sudah dipikirkan, sudah siap atau belum. Inilah pentingnya pengetahuan seperti ini. Kesantunan itu menawarkan diri kita yang sehat yang juga menuntut menjadi orang yang bertanggungjawab. Untuk itu, menikah tidak bisa kalau belum 20 tahun agar siap berumah tangga, berkeluarga dan berketurunan.

Allah sangat baik hati mengajarkan kita saling menghormati satu sama lain dan mengajarkan bertanggungjawab. Kalau mau menikah, bertanggungjawab artinya sudah siapkah, termasuk pendapatan. Dengan menikah berarti kita menggunakan organ-organ untuk berketurunan itu hanya sekali-kali, tidak setiap tahun hamil. Kita bertanggungjawab terhadap anak yang kita lahirkan; kita akan memberikan kasih sayang secara penuh; kita akan memberikan segalanya yang terbaik, pendidikan yang terbaik, sehingga mereka bisa lulus, memungkinkan bekerja dan mencari nafkah; kita membekali mereka dengan akhlak yang baik, sehingga kalau mereka punya anak akan bisa menularkannya pada anak tersebut. Melahirkan itu revolusi berat, perempuan harus menjaga makhluk lain dan jangan diperkosa berkali-kali. Misalnya, dua saja sehingga tidak perlu beresiko karena hamil dan melahirkan itu beresiko kematian. Laki-laki harus menjaga isteri dan janin di kandungannya, memberi makan yang bergizi.

Ekspresi seksual tidak hanya dengan berhubungan seksual, tapi bisa saling memuji atau memeluk. Memeluk dengan tenang menjelang tidur dan kita bisikkan kata bagaimana kita sangat menghargai isteri kita sudah memberikan kepuasan batin. Kepuasan tidak hanya satu hal, tapi bisa berupa tabungan, masa depan, membuat rumah, jangan hanya syahwat yang dipikirkan. Perempuan punya hak untuk hidup sehat; setelah kehamilan ketiga, perempuan menempuh bahaya. Jangan mencontoh perempuan yang punya anak banyak. Kita ingin bibit unggul dan generasi mendatang yang berkualitas; jangan memikirkan kuantitas, tapi kualitas.

Pendapat Anda tentang kebijakan Pemerintah Indonesia tekait kesehatan dan hak reproduksi dan seksual?

Indonesia banyak menandatangani berbagai kesepakatan internasional seperti Deklarasi Kairo, MDGs, dll, tapi apakah hak masyarakat untuk mendapatkan informasi sudah diberikan? Sudah 15 tahun sejak Deklarasi Kairo, sudahkah hak informasi dipenuhi? Apakah masyarakat sudah mengenal HIV dan cara menularnya? Ketika akan menikah, tidak usah memikirkan mahar, itu nomor sekian, yang paling penting kita peduli tentang kesehatan pasangan kita. Ada bayi lahir dengan HIV, ini konyol. Apa bayi melakukan hubungans seks? Kan tidak mungkin? Pasti orang tuanya. Tapi, kita tidak usah menghujat. Ini konteks kesehatan reproduksi yang sangat luas sekali. Ini landasan dasar untuk memahami kesehatan reproduksi secara komprehensif.

Yang menyebabkan tidak terjadi kehamilan bukan hanya kesalahan perempuan sehingga pemerikasaan organ bukan hanya terhadap perempuan saja. Dalam air mani yang disemprotkan, apakah jumlah cukup untuk terjadinya kehamilan. Kalau ada, bagaimana gerakannya. Mungkin si suami suka mengkonsumsi obat, jadi air maninya sedikit dan kualitasnya jelek. Kalau kondisinya demikian, suami tidak boleh marah. Harus konsultasi dan mengikuti treatment. Pembicaraan selanjutnya, apakah mau tiap tahun hamil dan melahirkan? Kalau tidak, bagaimana caranya? Kontrasepsi beraneka ragam dan harus dipelajari satu persatu dengan memperlihatkan gambar bagaimana memakai kondom yang baik. Jangan sampai, gara-gara ngomong seperti ini, saya dibilang menyebarkan pornografi dan diseret ke penjara. Kok cepat sekali menyalahkan? Kalau bicara kespro itu, pasti dianggap bicara seks, atau mengajak berhubungan seks.

Kekeliruan seputar pemahaman kesehatan reproduksi dan seksual salah satunya karena adanya pentabuan dalam masyarakat kita?

Iya, itu karena budaya, agama, adat istiadat yang berkembang sejak zaman nenek moyang, tapi kita masih mengadopsi terus dan tidak memperbaikinya sesuai zaman. Kita harus bangga karena, kakek saya pernah bilang, Islam diharapkan jadi agama yang selalu fleksibel dengan keadaan zaman yang selalu berubah untuk kebaikan. Misalnya, melahirkan banyak anak sudah melanggar hak anak dan hak asasi manusia karena anak tidak mendapat makanan yang sehat dan cukup, tidak dipeluk. Bahkan, mungkin kalau kebanyakan anak, kita lupa nama dan ulang tahun mereka. Saya seorang psikolog yang menyukai bidang ini, sehingga saya memikirkan soal IQ anak, pendidikan anak berkepribadian baik.

Salah satu persoalan besar di Indonesia adalah tingginya angka kematian ibu dan anak. Menurut Anda, apa sebabnya?

Karena pejabat-pejabat kita. Para menteri, anggota DPR, penentu kebijakan yang kurang pengetahuan tentang masalah ini. Kalau diajar atau diajak, malah mereka tersinggung dan bertahan dengan pendirian dan perspektifnya sendiri. Mereka sebenarnya melanggar hak asasi manusia, lebih mementingkan diri sendiri, tanpa melihat realitas. Mereka tidak mau turun ke lapangan sendiri. Coba liha PKK, cuma masak memasak saja, saja tidak tahu tentang kesehatan reproduksi. Mereka tidak pernah mau belajar. Mereka adalah pelanggar hak asasi manusia karena terus memaksakan keinginan mereka yang sempit, sehingga kita bisa lihat akibatnya angka kematian ibu, kegagalan KB dan kehamilan tidak diinginkan, serta aborsi yang tinggi. Manusia ingin hidup sejahtera. Para pejabat itu entah mengerti atau tidak definisi sehat yang utuh. Sehat utuh bukan hanya tidak sakit mencret, flu dan lain-lain, tapi kita merasa tenang, bahagia, tidak sakit secara mental, tidak stres, tidak pusing memikirkan makan dan biaya sekolah anak. Pejabat-pejabat dan wakil-wakil rakyat kita tidak mau mengurusi masalah ini.

Bagaimana dengan RUU Kesehatan kita? Bagaimana Anda menganalisanya secara umum?

Perlindungan hukum sangat diperlukan untuk memungkinkan perlindungan kesehatan. Program kesehatan, informasi yang jelas dan lengkap, tidak dianggap tabu, semua pengetahuan yang memungkinkan orang melindungi dirinya semua tersedia. Kita tidak perlu mengalami sakit kesehatan reproduksi, sakit seksual menular kalau kita tahu pencegahannya. Layanannya harus disediakan. Dalam film “Pertaruhan”, seorang single woman mau periksa papsmeer malah ditanyai sudah menikah belum? Apa hubungannya? Mau menjadi pengurus moral atau kesehatan. Itu kan rancu sekali, seperti gado-gado. Saya sudah mengurusi RUU Kesehatan tersebut sejak tahun 1992. Saya sudah tahu, itu tidak dapat dipakai untuk melindungi kesehatan kita. Saya ikut berjuang, men-draft bersama YKP sejak tahun 2001, tapi sebetulnya saya pribadi dan teman-teman di sini sudah berjuang sejak lama sebelum tahun 1990, sebelum keluar Rancangan Undang-undang yang tidak bisa dipakai untuk melindungi ini dan menjadi bahan tertawaan. Contohnya satu saja, tentang aborsi. Di situ dikatakan, yang bisa ditolong hanya yang gawat darurat. Padahal gawat darurat tidak perlu diatur dalam undang-undang. Dalam keadaan gawat darurat, mau mantan pacar, atau musuh, harus ditolong, kalau tidak, berarti salah. Kalau seseorang mengalami panas tinggi dan berdarah-darah memang harus ditolong, siapapun itu. Itu tidak perlu diundangkan. Lalu harus ada persetujuan pemuka agama. Bagaimana kalau kita tinggal di pulau terpencil dan ahli agama bilang aborsi itu dosa? Apakah mereka mengerti kesehatan reproduksi? Apa kriteria pemuka agama memutuskan boleh atau tidaknya aborsi? Kenapa harus mereka? Kalau perempuan ingin melindungi badannya sendiri yang paling berhak memutuskan adalah mereka sendiri. Kalau kita tidak mempunyai pengetahuan yang utuh, akan susah membuat keputusan yang adil. Sementara pendidikan kesehatan reproduksi juga tidak tersedia agar terhindar dari kehamilan yang tidak diinginkan dan tahu tentang kontrasepsi.

Angka kematian ibu dan anak sangat tinggi di Indonesia. Salah satu factor penyebabnya adalah aborsi. Bagaimana Anda menanggapinya?

Itu karena pengetahuan yang tidak utuh tentang kehamilan. Laki-laki harus diajari. Di Indonesia, aborsi masih ilegal, sehingga banyak perempuan yang takut melakukan aborsi. Dokter juga takut ditangkap kalau melakukan aborsi. Akhirnya para perempuan tersebut memilih melakukan unsafe abortion (aborsi secara tidak aman).

Dokter juga bisa melakukan unsafe abortion, karena mereka tidak belajar cara aborsi yang aman. Bagaimana mau melakukan aborsi secara safe (aman) kalau mereka tidak dibolehkan melakukan aborsi. Sementara Negara-negara lain sudah menggunakan alat-alat yang safe dari plastik yang lentur dan bukan dari besi, sehingga tidak berbahaya. Kita tidak mempunyai alat-alat itu. Saya tahu dokter-dokter yang masih menggunakan alat dari metal. Saya bisa berbuat apa? Apa hak saya melarang mereka? Perlu diatur dalam Undang-undang, misalnya tentang alat yang bisa dipakai untuk aborsi, dokter harus ditraining, ada konseling dulu, dan lain-lain sehingga aborsi menjadi tidak berbahaya dan angka kematian ibu dan anakpun juga berkurang. Begitu juga kasus unwanted pregnancy (kehamilan yang tidak diinginkan), akan berkurang. Saat ini, baik pengetahuan maupun pelayanan tidak tersedia.

Biasanya saya melakukan tes terhadap dokter-dokter yang akan terlibat menjadi supervisor di peer educated. Rata-rata angka mereka adalah 4. Itu dokter Puskesmas yang baik hati dan mau membantu saya. Apa yang bisa diharapkan dengan hasil seperti ini? Banyak perempuan tidak mendapatkan infrormasi. Petugas layanan masyarakat juga tidak mengerti, akhirnya tidak tahu mana tindakan yang aman dan tidak. Ketika ada yang ingin aborsi, karena anaknya banyak dan suami juga miskin dan terkadang aborsi memang diinginkan suami dan isteri, bagaimana mereka melakukan aborsi yang aman? Semua ini tidak diatur. Siapa yang mau mengaku aborsi? Mau dipenjara? Saya sering kongkalikong dengan banyak dokter dan saya diam saja. Saya tidak bisa menegur dokter dan mengatakan itu berbahaya sebab alatnya memang tidak ada, tidak diimpor karena memang tidak diperbolehkan. Ini persoalan rumit dan para pejabat kita tidak mengerti, atau saya rasa tidak mau tahu. Jadi, mereka adalah pelanggar hak asasi manusia.

Bagaimana dengan rendahnya partisipasi laki-laki?

Mereka merasa bukan mereka yang mengalaminya dan budaya juga tidak pernah menyuruh laki-laki untuk bertanggungjawab terhadap kehamilan. Misalnya, dari remaja, anak perempuan dikeluarkan dari sekolah atau pekerjaan kalau mengalami kehamilan, tapi laki-laki tidak mengalaminya. Yang mendapat sanksi dan menderita adalah perempuan, sementara laki-laki bebas. Tidak ada law, culture atau religion enforcement untuk membuat laki-laki turut bertanggungjawab. Belum lagi kalau membicarakan perkosaan dan sebagainya, bisa membuat saya sakit-sakitan mikirin hal ini. Ini bukan hal baru, sudah sejak saya selesai kuliah dan bergabung dengan program family planning (KB), tahun 80an. Jadi, tahun depan sudah 30 tahun. Apakah saya didengarkan? Sudah zaman teknologi dan website, masih saja dibilang kalau mengajarkan pengetahuan sex dianggap mendorong orang untuk ngeseks. Justru saya ingin orang memakai rasio. Kita ingin punya keturunan yang berkualitas. Diberi akal dan budi harus membiuat kita bertanggungjawab pada setiap anak yang kita lahirkan dan ini tanggungjawab berdua, laki-laki dan perempuan. Kita bangga kalau anak-anak menjadi santun, pintar dan mandiri. Saya seorang psikolog, bukan dokter, dan saya menyebarkan hal seperti ini. Yang saya inginkan adalah generasi berkualitas, bukan banyak tapi miskin. Saya baru mentraining ibu-ibu PKK, ternyata ada yang tidak lulus SD, tidak bisa diajari, susah menulis dan membaca. Kok bisa jadi kader PKK? Saya tidak menyaratkan sarjana, cukup lancar baca dan tulis saja, paling tidak SMP karena dapat sedikit pengetahuan biologi.


Sekolah merupakan sarana yang sangat potensial untuk mengembangkan dan menyebarluaskan pendidikan kesehatan reproduksi dan pendidikan seks. Tetapi, seringkali hal ini disalahpahami sebagai upaya menyebarkan pandangan seks bebas. Bagaimana tanggapan Anda?

Lebih jauh, nanti malah dimarahi kaum agawaman. Apa mereka memahami bahwa dalam agama diajarkan untuk mendidik umat agar hidup kita berkualitas dan sejahtera? Hizbuttahrir (sebuah organisasi keagamaan) di Jakarta Post, saya pernah baca, mereka mengatakan (pendidikan seks) ini Barat dan kebarat-baratan. Bagaimana ini? Yang menandatangani Deklarasi Kairo lebih banyak dari Afrika, Asia. Jadi, jangan bilang dipaksakan Barat. Saya mengajar seksualitas di Negara Islam lain seperti Bangladesh dan Iran. Siapa yang menyuruh? Imam Khomaini dan “MUI” di sana. Sex education menurut mereka harus diajarkan di semua univesitas. Mereka juga membuat kebijakan, setiap orang yang mau menikah harus mendapatkan pendidikan tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi. Iran, kurang Islam apanya? Apa mereka antek Amerika? Jelas mereka bertentangan dengan Amerika, tapi mereka maju. Total fertility rate di Iran adalah 1,6. Berarti dalam 1 pasangan rumah tangga, tidak sampai 2 anak. Tentu tidak semuanya punya 2 anak, ada yang satu dan ada yang dua. Aborsi dibolehkan, tapi memang harus diatur. Islam itu memiliki banyak aliran pemikiran. Biarkan saja orang milih, jangan dipaksa. Saya setuju dengan Iran, tidak peduli Syiah atau apa, buat saya, Iran lebih memiliki kemanusiaan. Di sana, sekoah gratis sampai SMA. Jangan dilihat yang jeleknya; mereka lebih maju. Saya bekerja untuk “MUI”-nya Iran. Pejabat di sana tidak sombong dan bersedia diajar sama saya. Mereka mungkin anti Barat, jadi saya (yang berasal dari Indonesia) yang diminta mengajar. Walaupun bahan-bahan informasi disusun orang Barat, tapi kalau saya yang mengajar, mereka besedia diajar. Saya Islam, bukan dokter. Mereka bilang, tidak perlu dokter yang wacananya sempit karena memang wacananya harus diperluas dengan hal-hal yang non-medis karena sehat itu bukan hanya non-medis. Sementara di negara saya sendiri, tidak ada yang (mau) mengerti.

Upaya untuk memasukkan pendidikan kesehatan reproduksi dan pendidikan seks di sekolah sudah sejauh mana dan apa kendala dan hasilnya?

Sudah capek. Selama saya hidup sampai jadi psikolog, saya sudah berusaha. Sampai sekarang Prof. Saparainah Sadli, juga sudah bekerja keras. Tapi, bisa apa? Saya sendiri sudah 30 tahun. Biasanya kalau mau menghabiskan uang, saya diundang para pejabat, tapi wallahu a’lam, hasilnya tidak dilaksanakan. Yang patut disalahkan itu bukan saya, tapi Menteri Kesehatan, Menteri Pendidikan, Kepala BKKBN, para anggota DPR. Mereka tidak mau dan tidak punya waktu untuk mendengarkan penjelasan saya. Selama empat tahun, komisi yang menangani kesehatan belum mengeluarkan undang-undang yang melindungi kesehatan masyarakat. Saya tidak dipakai oleh bangsa saya sendiri. Tidak apa-apa. Saya melihat kebutuhan universal, jadi saya mengajar di negara lain yang lebih mendengarkan saya. Mengajarkan hal seperti ini juga berarti jihad. Kalau saya tidak diterima di sini, tidak apa-apa; saya masih diterima dan diberik kesempatan di Afrika dan negara-negara lain. Saya hanya bisa membantu mengajar anak-anak saya, para junior atau LSM-LSM, seperti Mitra Inti, YKP, Fatayat-NU, Rahima, dan bidan-bidan.Kalau saya kecewa terus, saya bisa frustasi.

Kalau kita pesimis terhadap peran pemerintah, lalu bagaimana peran masyarakat, LSM perempuan, lembaga demokrasi dan HAM serta Komnas perempuan?

Saya kira, untuk melakukan the real work (pekerjaan nyata), menolong mereka yang kesakitan, mengidap HIV/Aids dan kematian, kita harus menguatkan pemahaman dan kebaranian kita dengan berpartner. Meskipun, cara ini hasilnya kecil. Kalau melalui Undang-undang, dampaknya bisa lebih berskala nasional. Kita mengharapkan generasi muda bisa berpengaruh di Departemen Kesehatan. Di penghujung perjuangangan, yang muda jadi penentu. Merka berani dan mulai berkonsultasi dengan YKP; mereka tidak sombong dan lebih tahu diri. Kita akan sangat terbuka dengan munculnya generasi baru dalam posisi pengambil kebijakan. Sementera, di kantor-kantor yang masih mempekerjakan pegawai lama, apa boleh buat, sabarnya harus diperpanjang. Lembaga-lembaga itu masih meminta orang dari zaman dulu untuk menjadi penasehat mengenai persoalan yang berkembang di zaman sekarang. Asal mereka tahu, mereka tidak membela apa yang disebut hak asasi manusia dan tidak memenuhinya.

ARTIKEL TERKAIT :



Tags : , Share on Facebook


© 2012 Komnas Perempuan | Jl Latuharhary 4B, Jakarta 10310 Tel: 62-21-3903963 Fax : 62-21-3903922 |
Kirim saran dan kritik ke redaksi@komnasperempuan.or.id
120 queries. 0.880seconds.