Perempuan, Internet dan Penyelewengan Seorang ‘Jubu’
21 July 2009 | Kategori: Aktual, Berita
Oleh: Ka’bati*
Pagi hari, setelah suami dan anak sulungnya berangkat ke tempat kerja dan ke sekolah, biasanya Kyong Jin akan berjalan-jalan ke luar rumah bersama bayinya yang berusia hampir setahun. Pemandangan seperti itu sangat biasa saya lihat di Maesan ri, desa di pinggiran Kota Gwangju, salah satu propinsi di Korsel. Berjalan-jalan sambil mendorong gerobak bayi adalah hiburan, sekaligus bagian dari kerja rutin para ibu rumah tangga di Korea (di sini profesi ibu rumah tangga disebut jubu). Tidak hanya di sekeliling apartemen atau taman bermain, para ‘jubu’ juga sering menghabiskan waktu berjalan-jalan di mal, sampai waktunya anak-anak pulang sekolah sekitar jam 3 siang. Setelah itu, mereka pulang ke rumah dan memasak untuk makan malam keluarga, membersihkan rumah, mencuci dan sebagainya. Begitu suami pulang bekerja, mereka biasanya masih sibuk bekerja. (Apakah ada maksud untuk mempertontonkan pada suami betapa sibuknya mereka bekerja di rumah dan mereka punya hak untuk marah-marah seperti banyak terlihat dalam sinetron Korea? Ini dugaan saya saja).
Kebiasaan Kyong Jin berjalan-jalan bersama bayinya kemudian berubah setelah dia mengikuti pelatihan internet awal tahun lalu. Semenjak tahun 2008 lalu, Pemerintah Korea lewat program pemberdayaan perempuan, memang giat mengadakan pelatihan keterampilan menggunakan internet buat para ibu rumah tangga. Menurut ceritanya, Kyong Jin — yang tetangga saya itu– saat ini telah bisa membuat web sendiri. Dia juga membuka kafe di internet. Menurutnya, di kafe tersebut mereka bisa ngobrol dengan sesama ibu-ibu rumah tangga lainnya di seantero Korea. Tidak hanya ngobrol, mereka juga bisa bertukar informasi tentang sekolah anak-anaknya, tentang hobi, tentang lowongan kerja dan apa saja, termasuk tentu saja juga berbisnis.
Pagi hari, jarang sekali sekarang saya bisa melihat Kyong Jin dan bayi perempuannya yang cantik itu. Dia sibuk mengurus ‘kafe’nya yang mulai ramai. Satu kali dia menelpon saya memberi tahu kalau kafenya kedatangan seorang tamu, guru bahasa Korea bagi orang asing yang sedang mencari murid. Dia menawarkan saya untuk belajar dengan pelanggan baru kafenya itu. Lain waktu, dia menawarkan mesin jahit merek terkenal dengan harga sangat murah. Katanya, salah seorang pengunjung kafenya membeli mesin jahit tersebut, tetapi kemudian dia ingin menjualnya lagi karena ternyata setelah beli mesin jahit dia tidak hobi menjahit.
Biasanya, hampir setiap pagi saya dan Kyong Jin atau para jubu lainnya saling bertukar senyum di taman pagi hari. Anak-anak kami juga saling bercanda dan bertukar bunga. Tapi sekarang sangat jarang saya bisa bertemu. Anak saya juga jadi kehilangan teman. Paling-paling saya hanya bisa bertukar kabar lewat telpon. Saya punya alamat di Facebook untuk berbagi cerita, tetapi tak ada jubu-jubu di Korea yang mau menggunakan Facebook. Mereka tidak terbiasa dengan huruf romawi. Jadi, kalaupun mereka punya kafe, kebanyakan masih kafe ‘domestik’, di www.naver.com. Bagaimanapun kita tentu beranggapan kalau itu jauh lebih canggih dibanding ibu-ibu kita di desa di Indonesia yang belum tersentuh internet.
Sampai Juli 2008 total jumlah pelanggan internet di Korea sebanyak 15,1 juta. Jumlah itu meningkat 620 ribu dari periode sama tahun lalu, dan mencapai 95 persen dari total jumlah rumah tangga di Korea. Demikian menurut Komisi Komunikasi Korea Selatan. Kondisi ini menempatkan salah negara ‘Macan Asia’ ini di urutan teratas di antara negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dari segi jumlah pengguna internet, kecepatan, dan ongkos layanan bulanan.
Menurut laporan hasil evaluasi oleh Yayasan Teknologi Informasi dan Inovasi-info ini saya kutip dari sumber KBS radio– pada bulan Mei, Korea Selatan memperoleh 15,92 poin sehingga menempati urutan teratas dengan 93 persen dari total rumah tangga Korea menjadi pengguna layanan internet, dengan kecepatan download rata-rata 49,5 Mbps, dan ongkos layanan internet per 1 Mbps adalah 0,37 dolar. Ranking ke-2 adalah Jepang dan ke-3 adalah Finlandia; sedangkan AS menempati urutan ke-15.
Dengan rasio distribusi internet 95 persen itu bisa diartikan pasaran internet Korea telah dalam keadaan jenuh. Untuk mengatasi kondisi tersebut, maka semenjak bulan Oktober tahun lalu diluncurkan layanan IP-TV. Sampai semester pertama tahun 2009, diperkirakan semua rumah tangga di Korea telah tersambung dengan jaringan internet berkecepatan tinggi.
Layanan internet berkecepatan tinggi membuat pelanggan merasa nyaman. Jika di masa lalu kita harus men-download file film atau musik pada komputer personal, menyimpannya, lalu baru bisa menontonnya, maka dengan internet berkecepatan tinggi para pengguna dapat menikmati film, musik, bahkan acara televisi dengan ‘real time.’ Internet di rumah tangga Korea juga memungkinkan untuk men-download sebuah film dalam waktu kurang dari dua menit.
Peningkatan kecepatan akses internet tersebut, kemudian menciptakan lingkup layanan yang beragam. Contohnya adalah ‘IP-TV’ yang memungkinkan pengguna internet menonton konten dengan ‘real time’ atau mendownload konten dalam format VOD.
Layanan demikian itu mustahil bisa dinikmati tanpa jaringan internet berkecepatan tinggi. IP-TV memungkinkan orang untuk dapat menikmati layanan dalam lingkup yang lebih luas, seperti menonton TV, melacak web, e-commerce, dan online search di web untuk semua jenis informasi.
Sayangnya, menurut Kyong Jin, belakangan dia sering bertengkar karena masalah internet. Walaupun dia tidak pergi ke mana-mana, tetapi kafe internetnya perlu pengelolaan secara profesional. Tidak ada pekerjaan yang berhasil baik tanpa pengelolaan yang baik. Walaupun fisiknya di rumah, tetapi sebenarnya dia bekerja di ruang publik. Mungkin inilah yang bagi suami Kyong Jin dianggap sebagai penyelewengan seorang jubu lalu memancing pertengkaran. Pernah masakannya gosong dan kompor nyaris meledak karena dia keasikan di ‘kafe’nya yang sudah mulai mendatangkan income kecil-kecilan.
Kalau sudah begini keadaannya, saya menjadi skeptis. Pertanyaan saya kemudian adalah: Ketika semua perempuan telah ‘terinternetkan,’ apakah kehidupan berjalan dengan lebih baik bagi perempuan? Apa makna pemberdayaan perempuan melalui teknologi sesungguhnya?
Kehidupan perempuan ‘Jubu’ di Korea adalah jawabannya. Hmmm….
*Penulis adalah kolumnis dan peminat masalah feminisme dan Cultural Studies. Saat ini menetap
di Maesan-ri, Gwangju, Korea Selatan.
ARTIKEL TERKAIT :
- Membangun Kepekaan Sejarah Bias Gender Pada Perkembangan Teknologi
- Himpunan Pandangan Masyarakat tentang Perempuan dan Teknologi
- Karlina Supelli, “Perempuan Harus Excellent di Bidang Teknologi”
| Tags : internet, teknologi | Share on Facebook |








