Click to listen highlighted text! Powered By GSpeech

Membangun Kepekaan Sejarah Bias Gender Pada Perkembangan Teknologi

Membangun Kepekaan Sejarah Bias Gender
Pada Perkembangan Teknologi
Oleh: Diah Irawaty

Telah lama, teknologi dan perempuan seperti halnya pengetahuan dan perempuan diasumsikan sebagai dua kategori yang terpisah dan tidak saling berhubungan. Stereotipe seperti itu terus menerus berkembang. Perempuan dianggap tidak cocok dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Lalu, muncullah stereotipe itu: bahwa teknologi bukan wilayah perempuan, tetapi dunia laki-laki yang membutuhkan maskulinitas. Sementara, pengetahuan dan teknologi tentu dua hal yang tak terpisahkan: pengetahuan menciptakan teknologi dan teknologi menciptakan pengetahuan, dua entitas yang saling berdampingan dan saling mendukung.

Selanjutnya, bagaimana sebenarnya pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terhadap konstruksi perempuan, relasi gender dan struktur dan implementasi pengetahuan dan teknologi itu sendiri? Adakah keterkaitan konstruksi gender dengan ilmu pengetahuan dan teknologi? Di tengah kecenderungan yang belum begitu kuat mengaitkan perkembangan teknologi dan perempuan, tentu bukan hal mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

Sejarah penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi (invention and discovery) yang kita pelajari sering hanya memberi informasi bahwa pencipta teknologi dan penemu ilmu pengetahuan dengan segala teori-teori maha canggih-nya, para filsuf dengan hasil renungan filosofisnya yang melahirkan banyak konsep dan aliran, para pemuka agama dan bahkan Nabi-nabi adalah laki-laki. Sejarah itu sama sekali tidak menampilkan sosok perempuan sebagai penemu, pencipta, pemikir, penggagas, dan lain sebagainya. Tentu saja bukan tak ada; eksistensi dan karya perempuan dilenyapkan dan dihilangkan sehingga sejarah tidak mencatatnya.

Stereotipe perempuan sebagai makhluk yang tidak rasional mulai dikembangkan yang lambat laun diterima dan dipercaya secara umum. Logo manusia pemikir (homo sapiens) lebih banyak menonjolkan figur laki-laki. Sosiolog Arif Budiman dalam Pembagian Kerja Secara Seksual; sebuah pembahasan sosiologis tentang peran wanita di dalam masyarakat (1981), banyak mengulas bagaimana perempuan dipinggirkan dalam filsafat dan ilmu pengetahuan. Rasionalitas sebagai syarat ilmu pengetahuan dijauhkan dari perempuan yang, pada perkembangannya, menghadirkan corak pandangan bahwa perempuan tidak cocok, tidak cakap dan ahli dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dua bidang tersebut dianggap milik laki-laki, macho dan maskulin. Stereotipe perempuan dengan segala feminitasnya dan penggunaan perasaan ketimbang rasio menjadi satu alasan paling diunggulkan untuk mematahkan semangat perempuan dalam dunia ilmu pengetahuan. Ilmu eksakta yang mementingkan rasionalitas dijauhkan dari perempuan. Perempuan dipaksa untuk lebih tertarik pada ilmu sosial dan urusan domestik. Semua ini tidak terlepas dari konstruksi kerja berdasarkan jenis kelamin (sex based division of labor). Semua ini terkait dengan kekuasaan sosial-politik-ekonomi yang telah membagi dunia publik dan domestik beserta siapa yang layak untuk berada pada dua domain tersebut, mendikotomikan feminitas dan maskulinitas menjadi dua hal yang bertolak belakang dan membuat ilmu pengetahun dan teknologi tampak maskulin dan tidak ramah perempuan.

Benarkah wajah ilmu pengetahuan dan teknologi maskulin? Ada satu pertanyaan dan sekaligus pernyataan menarik dari Lerman, Oldenziel dan Mohun (2003). Apakah mobil merupakan produk teknologi maskulin? Kritik mereka dalam buku Gender and Technology dimulai dengan menganalisa secara kritis lagu Mister Rogers. Liriknya seperti ini:

I’d like to be just like my Dad
He’s handsome dan he’s keen
He knows just how to drive a car
And buy the gasoline!

Lagu ini seperti ingin mengisyaratkan bahwa ada teknologi maskulin dan ada teknologi feminin. Peran gender dan gender expectation memberikan warna dan pengaruh dalam menentukan penggunaan satu obyek atau material tertentu. Interseksionalitas antara gender dan teknologi terlihat di sini dan tentu hubungan tersebut bukan hubungan yang baku, kaku dan statis, tetapi hubungan yang bisa berubah dan diubah. Apakah keduanya mempunyai hubungan yang saling menguntungkan dan bagaimana dampaknya bagi perempuan dan bagi kebijakan sosial, ekonomi dan politik secara keseluruhan? Mungkin pertanyaan ini tidak dengan serta merta terjawab tetapi penelitian dan analisa terhadap persoalan ini perlu dikembangkan lebih jauh.

Definisi teknologi pun bermacam-macam sesuai pendekatan atau kacamata yang dipakai, apakah antropologi, cultural studies, sejarah, dsb. Namun yang pasti, teknologi bukan hanya berhubungan dengan alat-alat berat, mesin, yang selalu diidentikkan dengan industrialisasi atau mekanisasi. Teknologi juga menyangkut segala hal yang berhubungan dengan kreasi, ide, pemikiran, aktifitas, penemuan, pemanfaatan dan aktifitas teknologi itu sendiri. Kita mengenal teknologi pertanian, teknologi reproduksi, teknologi informasi dan komunikasi, teknologi surat kabar, teknologi pangan, dan sebagainya, hal-hal yang sangat dekat dengan kehidupan keseharian manusia. Demikian, Karlina Supelli menegaskan dalam sebuah wawancara dengan Redaksi Komnas Perempuan. Saya lebih ingin menggunakan definisi teknologi sebagaimana para penulis buku-buku tentang gender dan teknologi, bahwa teknologi berhubungan dengan orang dan barang atau material, baik dalam proses pembuatan, pemanfaatan dan penggunaan, perancangan, perbaikan dan daur ulang. Ide dan aktifitas teknologi tidaklah hadir dan berdiri sendiri tetapi melalui proses pemikiran, kerja dan karya manusia, kreativitas, inovasi, pengetahuan, ideologi, asumsi, pengetahuan, pengalaman dan perspektif serta persepsi manusia itu sendiri. Karena itu, konsep dan aktifitas yang lahir dari seluruh proses itu tidak terlepas dari manusia yang memikirkan, menemukan, menciptakan dan menggunakannya. Gender dan teknologi, keduanya, merupakan produk sejarah dan sosial yang harus juga dianalisa dan dikaji ulang melalui proses sejarah. Karena itu pula, hal awal yang sungguh penting saat berhadapan dengan diskursus teknologi dan perempuan adalah membangun kepekaan sejarah (historical awareness) tentang kuasa sosial-politik-ekonomi tertentu berwajah patriarkhal di balik perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Saya setuju pendapat Karlina Supelli bahwa menghadirkan definisi maskulin dan feminin dalam teknologi tidak tepat digunakan karena materi tidak bergender. Manusialah yang membuat mereka bergender dan melanggengkannya agar laki-laki lebih dianggap kompeten dalam teknologi dan mempunyai power untuk menguasai teknologi dan lalu memarjinalkan perempuan dari segala bidang pemikiran dan pekerjaan. Pendefinisian tersebut hanyalah untuk menyangkal (kehadiran) kepentingan yang lain dan mendukung kepentingan yang lainnya.

Dalam perjalanan sejarahnya, pekerjaan perempuan juga ternyata diubah oleh teknologi-teknologi produksi pada abad 19 dan awal abad 20. Perempuan saat itu ikut didorong untuk menyesuaikan diri pada perkembangan teknologi-teknologi baru dalam lapangan pekerjaan. Mereka dituntut memenuhi persyaratan pekerjaan yang berubah-ubah terkait perkembangan teknologi. Pada akhirnya, perempuan sendiri menemukan teknologi baru dan mereka berjuang melawan kondisi kerja yang tidak sehat dan aman akibat teknologi-teknologi industri tersebut (Robert Asher, Kiprah Wanita dalam Teknologi, terj. Women, Work and Technology, 1998).

Namun, sayang, Revolusi Industri yang memunculkan teknologi-teknologi baru menguatkan pembagian kerja secara seksual (PKSS). Pada saat perempuan juga ingin maju bersama-sama laki-laki untuk memanfaatkan teknologi dan mendapatkan manfaat dari kemajuan teknologi, mereka justeru ditinggalkan. Upah dan status sosial yang rendah diberikan pada perempuan, sementara laki-laki mengambil alih pengoperasian dan reparasi mesin dan pekerjaan yang berhubungan dengan manajemen yang bayarannya mahal. Asher mengeksplorasi bahwa kaum laki-laki menolak perempuan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang menghasilkan upah tinggi. Mereka menciptakan stereotip-stereotip gender dalam pekerjaan dan juga pekerja. Stanley dalam buku yang sama juga menceritakan bagaimana perempuan sengaja dilupakan dalam sejarah penciptaan dan penemuan mesin-mesin bagi proses-proses industri berat. Nama mereka tidak dicatat. Banyak perempuan yang mendapatkan hak paten atas produk-produk baru dan mesin-mesin pabrik baru, namun prestasi perempuan penemu dan pencipta ini dihilangkan dalam sejarah. Banyaknya penolakan terhadap perempuan, stereotip yang marak dan lalu berkembang teknologi ciptaan laki-laki dengan perspektif laki-laki, sesuai dengan postur tubuh laki-laki dan dengan parameter maskulin dan patriarkhal semakin mengesankan bahwa teknologi hanya absah bagi laki-laki; teknologi adalah dunia laki-laki, tidak cocok untuk perempuan. Marjinalisasi perempuan dalam teknologi terjadi terus menerus, direproduksi, dinternalisasi hingga banyak orang percaya bahwa laki-laki identik dengan teknologi.

Sekarang, tidaklah mengherankan bila perempuan dipinggirkan dari teknologi apapun dan dari pengambilan keputusan dan akses terhadap pekerjaan yang dikategorikan bukan pekerjaan perempuan. Salah satu contoh misalnya penelitian yang dilakukan oleh E.F Sri Haryani Santoso, Sri Kumalaningsih Tatik Wardiiati, Endah Rahayu Lestari dan Ulfa Azizah, tahun 1994/1995. Penelitian ini menyebutkan bahwa peran perempuan dalam teknologi pasca panen lebih kecil dibandingkan laki-laki. Namun demikian, perempuan ternyata masih punya peran dalam berbagai kegiatan teknologi pertanian/pangan. Sayangnya, peran gender yang dibakukan dan pembagian kerja berdasarkan gender dalam pekerjaan memperkecil kesempatakan perempuan untuk lebih maju dan berkembang.

Salah satu contoh adalah Revolusi Hijau yang secara umum gagal diterapkan di Indonesia. Masa pra Revolusi Hijau, kita tahu, perempuan dan laki-laki petani memiliki kesempatan kerja yang cukup seimbang. Meski tetap ada stereotipe gender, perempuan masih memiliki akses cukup luas terhadap lapangan pekerjaan di bidang pertanian. Namun, Revolusi Hijau mengganti tenaga manusia dengan mesin dan teknologi pertanian. Produksi harus ditingkatkan. Teknologi dipercaya menjadi satu-satunya cara meningkatkan produksi itu. Dalam pandangan bias gender yang masih kuat, kesempatan memainkan peran dalam perkembangan teknologi pertanian di bawah proyek Revolusi Hijau itu lebih banyak diserahkan pada laki-laki. Pekerjaan-pekerjaan pertanian bertenaga manusia perempuan lalu diganti mesin yang dioperasikan petani laki-laki. Tentu saja hal-hal seperti ini patut kita ketahui untuk memahami bahwa perempuan menjadi marjinal dalam teknologi bukan karena ketidakmampuan mereka. Alih-alih, konstruksi sosial, budaya, politik dan ekonomi yang tidak pro-kepentingan perempuan membuat “aturan” sosial tentang ketidakcocokan perempuan dengan teknologi.

Terakhir, salah satu dari 12 isu kritis gerakan perempuan tahun 2006-2011 yang merupakan hasil Temu Nasional Aktifis Perempuan Indonesia (2006) adalah perempuan dan teknologi. Agenda isu kritis ini sebagai berikut: meningkatkan kapasitas perempuan dalam pemanfaatan berbagai teknologi; menggunakan teknologi untuk membangun simpul informasi dan komunikasi; memperkuat akses perempuan terhadap teknologi; dan kampanye teknologi yang ramah perempuan. Saat teknologi begitu pesat berkembang, tak bisa dielakkan oleh siapapun, sungguh sangat penting memang kita mulai mengorientasikan gerakan kita pada upaya mengadvokasi perkembangan teknologi agar lebih mendukung agenda pemberdayaan perempuan. Nyatanya, saat satu sisi teknologi begitu pesat berkembang, masih banyak perempuan warga Negara kita yang bahkan masih tidak mengenalnya. Inilah tantangan kita, dan kita perlu bersemangat menjawabnya.

Click to listen highlighted text! Powered By GSpeech