Aku Bekerja, Maka Aku Dinihilkan


16 July 2009 | Kategori: Referensi

Judul Buku : Gender Differences at work, Women and Men in Nontraditional Occupations
Penulis : Christine L. Williams
Penerbit : University of California Press
Tahun Terbit : 8 Mei 1991
Halaman : 206

Christine L. Williams dalam buku ini mendeskripsikan bahwa laki-laki menghadapi dilema ketika mereka bekerja pada pekerjaan yang dianggap “pekerjaan perempuan” seperti perawat, pustakwan, pendidik dan pekerja sosial, penata rambut dan pengasuh bayi. Tentu saja, pandangan ini merupakan gambaran nyata dalam masyarakat di mana banyak orang percaya bahwa laki-laki tidak sepatutnya melakukan pekerjaan yang dikategorikan pekerjaan perempuan itu. Pekerjaan tersebut harus dihindari laki-laki karena sering dianggap sebagai pekerjaan yang menjemukan dan pekerjaan ringan yang tidak butuh keterampilan, diupah rendah, kurang prestisius, tanpa penghargaan. Dengan demikian, dalam masyarakat, berkembang opini bahwa sulit dipercaya bila seorang laki-laki yang sehat dan normal mau melakukan “pekerjaan perempuan” itu; laki-laki pun menjadi kurang terepresentasikan dalam pekerjaan tradisional perempuan. Inilah bentuk konstruksi sosial patriarkhal yang butuh kerja keras untuk mengubahnya.

Budaya pop (popular culture) melalui beragam agennya semisal TV dan media lain memainkan peran yang sangat penting dalam menyebarkan ide bahwa laki-laki yang mengerjakan “pekerjaan perempuan” merupakan kelompok masyarakat anomali. Nyatanya, meskipun beberapa laki-laki melakukannya juga, mereka masih mempunyai kekuasaan, privilege dan masih dapat menunjukkan dan memelihara kemaskulinitasan mereka. Berdasarkan hasil penelitian Williams, dunia tempat kerja para laki-laki tersebut tetap menjadi dunia laki-laki. Mereka tetap maskulin dan tidak menjadi feminin atau kehilangan kemaskulinitasan, otoritas, privilege, dominasi dan superioritas mereka sebagai laki-laki yang justru dibangun dan direproduksi dalam pekerjaan mereka, tempat kerja dan relasi mereka dengan pekerja perempuan.

Williams juga menjelaskan dan meninitikberatkan pada ketidakadilan kerja di mana perempuan dan laki-laki tidak mendapatkan perlakuan yang sama pada pekerjaan dengan kualifikasi yang sama dan pada performa pekerjaan yang sama. Perempuan memperoleh upah yang lebih kecil dan status atau posisi yang lebih rendah. Tokenisme merupakan salah satu cara untuk menlestarikan diskriminasi gender karena laki-laki yang dominan tetap mengendalikan keputusan. Perempuan menjadi obyek stereotipe, “jebakan” dan bentuk-bentuk lain diskriminasi, pelecehan dan juga marjinalisasi. Pembagian kerja secara seksual (sex based division of labor) menyebabkan pemberian nilai lebih pada pekerjaan laki-laki dan maskulinitas dan kurang memberikan penghargaan atau bahkan merendahkan kerja-kerja perempuan dan femininitas. Dalam keadaan itu, dengan bekerja, perempuan justeru dinihilkan, dimarjinalisasi dan dianggap tidak penting.

Dalam hal ini, Williams benar bahwa tempat kerja tidaklah mungkin netral, di mana pekerjaan dinilai bukan dari jenis kelamin pekerjanya, tetapi dari prestasi dan performa mereka. Tempat kerja justru seringkali menjadi salah satu media sentral bagi pelestarian diskriminasi gender. Laki-laki, sekali lagi, yang dominan itu, menggunakan tempat kerja untuk menguatkan kuasanya atas perempuan lalu melebarkannya pada kehidupan sosial lebih luas. Laki-laki mengontrol semuanya, dan tak sudi berbagi dengan perempuan termasuk ketika membuat aturan tentang gaji dan hak lainnya.

Perempuan dipandang sebagai pendulang nafkah kelas ringan (secondary breadwinner) yang tidak sepenuhnya bisa mendukung kesejahteraan keluarga. Dalam pandangan tersebut, perempuan menjadi pekerja yang pendiam, tak suka protes dan menuntut, dan lalu, mudah ditaklukkan dan dikontrol. Memaksa perempuan menerima gaji lebih kecil untuk pekerjaan yang sama merupakan upaya penundukan agar perempuan tetap tergantung pada laki-laki. Femininitas dan domestifikasi yang seakan melekat pada diri dan hidup perempuan lalu menjadi mitos yang seolah-olah terbentuk alamiah. Williams mempunyai analisa yang cukup mendalam tentang segregasi pekerjaan dan pembagian kerja secara seksual. Saya menyetujui Williams bahwa tempat kerja juga bergender (gendered) dan merupakan satu arena di mana laki-laki dapat menunjukkan dan memamerkan maskulinitas mereka, kekuasaan mereka, mendapatkan lebih banyak akses terhadap sumberdaya, lebih banyak kesempatan, pengembangan karir dan pengembangan diri.

Sosialisasi dan proses belajar sebagaimana juga institusionalisasi dan internalisasi ikut memainkan perannya dalam melanggengkan dan memelihara stereotipe gender, segregasi gender dan ketidakadilan di tempat kerja. Karena perempuan dianggap sebagai ibu, isteri, dan harus bekerja pada wilayah domestik mereka dipaksa mendapatkan posisi dan status sosial-ekonomi yang rendah. Bagaimana dengan perempuan sebagai kepala rumah tangga atau single dan bekerja pada pekerjaan yang dianggap sebagai pekerjaan laki-laki? Nyatanya, karena beragam hal, banyak perempuan yang sekarang berposisi menjadi kepala rumah tangga dan memiliki pendapatan yang cukup untuk mendukung kesejahteraan keluarga. Namun, karena mitos dan ideologi tentang feminitas dan domestisitas sebagai produk patriarkal begitu kuat dikonstruksi secara sosial sebagai “kebenaran,” dalam banyak hal, posisi kepala rumah tangga itu juga masih belum sepenuhnya memberinya kuasa lebih besar, khususnya dalam kehidupan bermasyarakat.

Pesan penting Williams, karena semua itu adalah konstruksi sosial, maka peluang untuk melakukan perubahan sangatlah besar. Dan, kita, yang sadar bahwa kondisi tersebut merupakan bentuk ketidakadilan gender, sepatutnya mengupayakan secara keras perubahan itu sehingga terwujud dunia rumah tangga, dunia kerja dan dunia sosial lain yang lebih adil. (Diah Irawaty)

ARTIKEL TERKAIT :



Tags : , , Share on Facebook


© 2012 Komnas Perempuan | Jl Latuharhary 4B, Jakarta 10310 Tel: 62-21-3903963 Fax : 62-21-3903922 |
Kirim saran dan kritik ke redaksi@komnasperempuan.or.id
119 queries. 0.777seconds.