Click to listen highlighted text! Powered By GSpeech

Warna Warni Suara Warga tentang KDRT dan UU PKDRT

Menanggapi makin berkembangnya pemberitaan dan perhatian masyarakat terhadap kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), Redaksi memawancarai berbagai kelompok masyarakat untuk mendengar pendapat dan suara mereka mengenai persoalan ini, termasuk pengetahuan dan pemahaman mereka mengenai UU No. 23 tentang Penghapusan KDRT yang sudah sekitar 5 tahun diberlakukan. Apa pandangan mereka terhadap KDRT? Bagaimana sikap mereka saat terjadi KDRT? Apakah mereka mengetahui bahwa negara kita sudah memberlakukan UU PKDRT? Berikut hasil wawancara yang dilakukan Tim Redaksi, Nunung Qomariyah dan Diah Irawaty


  • Muhajir (49 tahun)
    Asal: Sukabumi
    Pekerjaan: Pedagang ice cream

    Saya tidak setuju bila isteri harus mengalami kekerasan atau penyiksaan dari suaminya. Isteri itu kan harus disayang. Menurut saya, kekerasan terhadap isteri merupakan tindakan yang kurang bagus. Pelakunya harus dijebloskan ke penjara dan korbannya harus diobati. Kalau saya melihat atau mendengar ada yang mendapat kekerasan, kalau parah sekali, harus dilaporkan ke polisi. Tapi kalau hanya ribut biasa antara isteri dan suami, penyelesaiannya diserahkan kepada keluarga masing-masing dan biasanya orang tua ikut ambil alih. Saya tidak mau mencampuri urusan orang lain kalau ada masalah keluarga. Banyak isteri tidak mau melapor bila kasus KDRT menimpa mereka karena takut dan masih sayang pada suaminya.


  • Rohayatul Jannah (43 tahun)
    Asal: Tegal, Jawa Tengah
    Pekerjaan: Pedagang kue keliling

    Saya sangat tidak setuju dengan kekerasan terhadap isteri karena itu bukan perbuatan yang terpuji dan sangat jahat, tidak baik. Saya tidak pernah merasakannya dan belum pernah melihat di lingkungan atau tetangga-tetangga saya yang mengalaminya. Tetapi kalau seandainya terjadi pada saya atau saya melihat ada keluarga atau tetangga yang punya masalah seperti itu, saya akan langsung lapor ke Ketua RT dan RW. Kalau masalahnya berat dan kekerasannya parah, saya akan lapor ke polisi. Saya berani saja, mengapa harus takut. Kita kan benar, jadi tidak usah takut. Memang ada banyak perempuan atau isteri yang tidak berani melapor. Mengenai Undang-undang KDRT, saya tidak tahu dan belum pernah mendengar. Saya memang nonton TV tapi hanya kasus-kasus yang mengerikan saja yang saya lihat. Kalau saya, saya ingin pelakunya dimasukkan ke penjara supaya korbannya merasa aman.


  • Ata (39 tahun)
    Asal: Cirebon
    Pekerjaan: Pedagang es doger keliling


    Banyak memang kasus isteri diperlakukan kasar oleh suami, dimarahi, selingkuh, bahkan ada yang sampai tega membunuh isteri sendiri. Itu perbuatan iblis. Suami takut isterinya akan selingkuh atau akan mengetahui kalau dia selingkuh sering jadi alasan tindakan kekerasan itu. Supaya aman, lalu isterinya dibunuh. Saya setuju kalau kekerasan seperti itu dihapuskan saja. Pelakunya harus dihukum, benar-benar dihukum, jangan kalau pelakunya punya uang terus dibebaskan dari hukuman. Dengan demikian, kalau ada kasus serupa akan dibiarkan saja, tidak ditanggapi. Pokoknya, menurut saya, kekerasan harus dihilangkan. Itu menyangkut moral bangsa.

  • Anggri Hervanti (28 tahun)
    Asal: Surabaya
    Pekerjaan: Financial Assistant


    Terhadap KDRT jelas saya tidak setuju karena kita tidak boleh saling menyakiti dan hal tersebut merupakan pelanggaran HAM. Tentang Undang-undangnya, saya belum pernah mendengar, tapi kalau kasusnya memang banyak sekali. Saya juga sering heran, kenapa kasus KDRT baru diekspos kalau kasus tersebut menimpa public figure, sementara kalau hal tersebut terjadi pada yang bukan public figure, kasus ini tidak diangkat media. Kalau kasus seperti itu menimpa saya atau keluarga saya ataupun saya mendengarnya, saya akan beritahu tetangga yang lain dan masyarakat sekitar sehingga akan ada sangsi sosial atau sangsi moral dari masyarakat. Kalau kasusnya parah, saya akan melaporkannya ke polisi dengan terlebih dahulu menanyakannya ke perempuan yang menjadi korban. Banyak juga perempuan-perempuan yang mengalami KDRT tapi takut untuk melapor. Menurut saya, hal tersebut disebabkan oleh kurangnya pengetahuan mereka tentang KDRT dan UU-nya. KDRT ini menurut saya harus dihapuskan, saya sangat setuju sekali.

  • Dewi (bukan nama sebenarnya)
    Pekerjaan: Pedagang kaki lima


    Saya tidak pernah melihat kasus-kasus kekerasan seperti itu dan sepertinya tidak pernah terjadi di wilayah tempat tinggal saya maupun di lingkungan tempat saya berjualan. Saya memang melihat di TV, tapi itu terjadi pada artis-artis kita. Saya kira, namanya juga artis, banyak uang hanya ingin membuat berita saja, membuat sensasi. Artis kan bisa berbuat apa saja sesuka hatinya dan ngarang cerita. Kalau ada kasus kekerasan seperti itu, kita bisa ngomong ke ketua RT dan RW atau ke sesama tetangga. Saya sih berani saja. Pelakunya harus mendapat ganjaran seperti apa yang dia lakukan. Kalau pelakunya memukul, balas lagi pukul, kalau suaminya selingkuh, isterinya selingkung aja lagi, biar impas, biar tahu rasa dia. Beberapa yang tidak berani lapor karena mereka takut. Saya jelas tidak setuju tapi belum menemukan kasus seperti itu, belum pernah tahu, dan belum pernah melihat.

  • Iyah (45 tahun)
    Asal: Menteng
    Pekerjaan: Penjual nasi


    Saya tidak tahu kalau ada UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT). Saya juga tidak pernah melihat langsung, nonton televisi juga gak sempet. Biasanya, saya langsung tidur setelah kerja, capek. Tapi kalau saya melihat sendiri saya akan lapor. Syukurlah di sini tidak ada yang seperti itu. Tapi kata orang para korban ini takut lapor polisi, karena diancam suami.

  • Wati (43)
    Asal: Menteng Jakarta
    Pekerjaan: Cleaning Service

    Aku selalu sedih melihat korban kekerasan dalam rumah tangga di televisi. Tapi syukurlah kalau melihat sendiri langsung belum pernah. Seandainya melihat sendiri pasti aku tolong, aku antar ke puskesmas lalu lapor ke polisi. Korban kadang-kadang bingung mau ke mana jika mengalami KDRT, padahal kalau mau melapor, polisi pasti mau bantu. Sekarang, sudah banyak orang yang tahu tentang UU PKDRT dari televisi. Biasanya kalau orang-orang terkenal seperti artis yang mengalami KDRT, UU PKDRT itu selalu disebut-sebut. Makanya, orang-orang yang mendapat KDRT masalahnya itu harus dituntaskan. Pelakunya jeblosin saja ke penjara biar kapok.


  • Saifuddin (40 tahun)
    Asal: Bogor
    Pekerjaan: Penjual soto mie

    Walaupun saya lelaki, tapi tidak boleh perempuan itu dikerasin apalagi sampai luka badannya. Saya bukan orang yang berwajib, jadi kalaupun melihat saya tidak bisa berbuat apa-apa, karena itu urusan rumah tangga orang lain. Tapi, kalau sudah sangat keterlaluan, misalnya isterinya sampai babak belur, saya berusaha menolong dengan membawanya ke rumah sakit. Pelakunya biar diurusin sama RT. Kadang-kadang memang ada suami yang wataknya keras; kalau marah sama isterinya langsung memukul. Tapi juga kadang karena tidak punya uang, suami pusing lalu marah sama isterinya. Korban jarang yang lapor sama polisi karena tidak tahu; kadang juga karena masih sayang sama suami. Selain itu, istrinya bingung kalau suaminya dilaporkan lalu dipenjara, siapa yang menghidupi anak-anaknya. Biasanya, isteri banyak yang tidak bekerja karena mengurus rumah tangga dan anak-anak.


  • Ria (28 tahun)
    Asal: Depok
    Pekerjaan: Pegawai swasta


    Saya tahu tentang UU PKDRT. Kadang-kadang televisi ada manfaatnya juga, secara tidak langsung turut menyosialisasikan UU PKDRT lewat kisah-kisah percerain para artis. Syukurlah, orang jadi tahu bahwa siapapun yang berani melakukan kekerasan dalam rumah tangga, baik fisik, psikologis dan sebagainya akan mendapat hukumannya. Menurut saya, KDRT terus terjadi karena hukuman yang semestinya tidak dijalankan oleh penegak hukum. Penegak hukum juga tidak semua tahu bagaimana menggunakan UU PKDRT ini dalam kasus kekerasan dalam rumah tangga. Selain itu, faktor kemiskinan bisa jadi menjadi alasan kenapa sering terjadi kekerasan.
    Jadi mengatasi persoalan kekerasan dalam rumah tangga tidak hanya dengan UU PKDRT, tapi seluruh aspek kehidupan.

  • Awan (Usia 29)
    Asal: Depok
    Pekerjaan: Karyawan


    Institusionalisasi kesetaraan relasi laki-laki dan perempuan di Indonesia tampaknya bergulir semenjak reformasi digulirkan menuju titik yang mencerahkan, terbukti banyak undang-undang, badan, kebijakan dan instrumen perlindungan hukum dan penjaminan negara atas kesetaraan perempuan digulirkan di banyak sektor. Misalnya UU PKDRT tersebut. Melalui UU ini, negara berani melakukan pendobrakan pemahaman dominan dalam masyarakat bahwa segala sesuatu yang terjadi di ruang domestik adalah privat, jauh dari intervensi negara, masyarakat dsb. Menggangap masalah ini adalah urusan pribadi masing-masing, tak tersentuh orang lain. Agama dan moralitas tradisionallah yang menjadi tempat berpulang semua pandangan itu. Artinya, semua ini jauh dari urusan negara dan tabu menjadi urusan publik. Makanya, sebelum ada UU PKDRT, banyak kasus kekerasan dalam rumah tangga yang kebanyakan dilakukan laki-laki terhadap perempuan terjadi dan ironisnya dinggap hal lumrah dalam berumah tangga dan tentu menjadi tidak tersentuh hukum.

    Tentu UU PKDRT ini, bagi saya, menjadi harapan besar penjaminan negara untuk membangun relasi laki-laki dan perempuan yang lebih baik di masa depan. Meski demikian, ada banyak PR besar yang harus dikerjakan pemerintah untuk membatalkan ratusan regulasi berbasis agama yang berkembang biak di berbagai daerah, dan ironisnya mengkriminalisasikan dan mendiskriminasikan perempuan.

Click to listen highlighted text! Powered By GSpeech