Click to listen highlighted text! Powered By GSpeech

Kartini Masa Kini adalah Para Perempuan Pejuang Hak Asasi Manusia

Tanggal 21 April biasa diperingati sebagai hari Kartini. Sayang, peringatan perjuangan kartini  selama ini justru mereduksi Kartini sebagai simbol tradisionalisme perempuan, seperti kewajiban berkebaya, lomba masak-masak dan seluruh kegiatan yang justru mengukuhkan domestifikasi peran perempuan. Padahal pada abad ke-20 Kartini telah menyadari dan mendobrak tradisi-tradisi yang mendiskreditkan perempuan. Kartini yang tidak berumur panjang mencoba mendesakkan agar perempuan bisa menikmati haknya sebagai perempuan secara utuh, dihargai dan dihormati seperti manusia.

Hari ini, 21 April 2009 bertempat di Komnas Perempuan  hadir para perempuan survivor (penyintas) kekerasan dan pelannggaran HAM yang terus menerus berjuang demi keadilan, demokrasi dan HAM. Para perempuan inilah yang menurut Komnas Perempuan adalah Kartini-Kartini masa kini yang perjuangannya patut untuk diapresiasi, diantaranya adalah: perempuan korban 65, perempuan yang anaknya menjadi korban Trisakti Semanggi I dan II, Mei 98, Perempuan korban Ahmadiyah, perempuan yang keluarganya menjadi korban penghilangan paksa 1997-1998, perempuan dari Thailand yang suaminya dihilangkan secara paksa serta ibu-ibu dari Madres plaza de Mayo Argentina.

Seluruh perempuan ini berkumpul untuk saling berbagi, saling mendukung dan menguatkan satu sama lain agar tidak pernah lelah memperjuangkan apa yang telah mereka yakini dan perjuangkan selama ini, yakni sebuah hukuman bagi para pelaku yang telah menghilangkan jiwa anak, suami dan saudara mereka. Dalam kesempatan tersebut para perempuan ini juga belajar dari kegigihan ibu-ibu Madres Plaza de Mayo yakni Taty Almeida (79) dan Aurora Morea (84) dari Argentina yang berjuang selama 32 tahun untuk mendapatkan keadilan atas penghilangan paksa anak dan saudara mereka. Semangat untuk terus mencari keadilan dari dua perempuan asal Argentina yang mewakili 30.000 perempuan lain bernasib sama ini patut ditiru. Seperti yang diungkapkan Aurora Morea “Kami terus berjuang untuk mencari keadilan demi kemanusiaan, tidak hanya perseorangan tapi demi seluruh rakyat, dan kekuatan kami berdasarkan kepercayaan, dan pada akhirnya Pemerintah Argentina menghukum para pelaku penghilangan paksa anak dan saudara kami”.

Tidak jauh berbeda,  para perempuan korban pelanggaran HA M berat ini juga terus berjuang hingga Pemerintah Indonesia bertanggungjawab dengan menghukum seluruh pelaku kejahatan kemanusian tersebut, semata agar apa yang mereka alami dikemudian hari tidak akan pernah menimpa siapapun lagi, seperti yang diungkapkan oleh salah satu korban dari Poso “Saya merasakan begitu pahitnya menjadi korban, dan saya tidak menginginkan pengalaman yang pahit ini terjadi lagi kepada orang lain”
(Nunung Qomariyah)

Click to listen highlighted text! Powered By GSpeech