"Jika sunat perempuan merupakan tradisi, bukan ajaran, terlebih banyak mudharatnya, lebih baik ditinggalkan saja."


Demikian ungkap AD.Kusumaningtyas dari Rahima, saat berbicara dalam diskusi yang diselenggarakan Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta (10/12/2010). Diskusi ini merupakan bagian dari rangkaian Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan yang diselenggarakan secara nasional.

Sebelumnya, diskusi diawali pemutaran film berjudul “Pertaruhan”. Film produksi Kalyashira ini mengupas tentang realitas kehidupan sehari-hari, termasuk sunat perempuan. Film ini memperlihatkan sunat perempuan masih menjadi praktik beberapa masyarakat. Sebagian percaya bahwa sunat perempuan merupakan sebuah anjuran agama, oleh karenanya harus dilaksanakan. Sementara yang lainnya mengatakan bahwa sunat perempuan tidak jelas hukumnya, dan hanya merupakan tradisi, seperti diamini oleh alm.Gusdur dalam film tersebut.

 

Sejumlah mitra Komnas Perempuan serentak melakukan Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16HAKTP). Kampanye ini dimulai dari tanggal 25 November 2010 dan berakhir pada tanggal 10 Desember 2010. Swara Parangpuan Manado adalah satu dari 37 mitra Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) yang melakukan kampanye tersebut. Kekerasan Seksual:Kenali dan Tangani adalah tema yang mereka angkat, mengikuti tema nasional  yang diusung oleh Komnas Perempuan.

Dibawah ini adalah materi-mater kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan 2010 dalam format PDF :

  1. Lembar Fakta Kekerasan Seksual
  2. Press Backgrounder
  3. Desain Kaos
  4. Desain Pin
  5. Desain Tas

Silahkan menyebarkan atau mempublikasikan materi-materi tersebut.

 

Dalam rangkaian Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, Komisi Anti Kekerasan Terhadap Perempuan ( Komnas Perempuan) bekerjasam dengan Kineforum meyelenggarakan pekan pemutaran film dan diskusi. Kekerasan Seksual:Kenali dan Tangani menjadi tema kampanye sekaligus tema pemutran film ini. Kekerasan seksual juga menjadi tema kampanye lima tahun ke depan.

Jumat, 26 November 2010 dilakukan pemutaran film dokumenter bejudul Befreier und Befreite dan dilanjutkan dengan focused group discussion (FGD). Film ini berkisah tentang perempuan korban perkosaan pada Perang Dunia II yang mulai berani menceritakan pengalamannya setelah 46 tahun membisu.

Dalam rangka memperingati Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, Perkumpulan Peduli Medan menggelar diskusi dengan tema “Kekerasan Seksual terhadap Perempuan dalam Perspektif Agama Kristen Protestan dan Adat Batak” (26/11/2010). Hadir sebagai pembicara adalah C.Pdt.Reni Simanjuntak, Pdt.Suenita Sinulingga, STh, Erlina Pardede serta Sylvana Maria Apituley-Komisioner Komnas Perempuan.

Dalam rangka Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, Komnas Perempuan bekerja sama dengan Kineforum, akan menggelar Pekan Film dan Diskusi. Tema yang diangkat sesuai dengan tema kampanye 16 Hari tahun 2010 ini, yaitu ”Kekerasan Seksual: Kenali dan Tangani. Terdapat sembilan judul film yang akan diputar mengenai kekerasan berbasis gender dan identitas seksual, baik produksi mancanegara maupun dari dalam negeri, termasuk produksi Komnas Perempuan sendiri.

Film dan diskusi tematik kami pilih sebagai salah satu media untuk kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, mengingat efektivitasnya dalam menarik perhatian masyarakat dan menyampaikan pesan. Untuk itu, Komnas Perempuan mengundang kehadian kawan-kawan untuk bisa ikut menghadiri pemutaran film dan diskusi yang rangkaiannya akan diadakan pada :

Hari/Tanggal : Kamis, 25 November 2010 sampai dengan Jum’at, 10 Desember 2010

Tempat       : Kineforum, Taman Ismail Marzuki, Jl. Cikini Raya no 73, Jakarta Pusat

Waktu        : terlampir

Acara         : Pemutaran Film dan Diskusi bertema Kekerasan Seksual


Demikian undangan ini kami sampaikan, atas perhatian dan kehadirannya kami ucapkan terima kasih.

 

Hormat kami,

-

Andy Yentriyani

(Komisioner, Ketua Subkomisi Partisipasi Masyarakat)

———————————————–

Informasi dan konfirmasi kehadiran, kunjungi; www.komnasperempuan.or.id atau hubungi: Site: 081932787358

-

Acara ini bekerjasama dengan :

Daftar Pemutaran Film dan Diskusi Bisa Didownload di Link Dibawah Ini :

Apa itu PUNDI PEREMPUAN?

PUNDI PEREMPUAN adalah wadah untuk menggalang dan mengelola dana bantuan dari masyarakat untuk membantu perempuan korban kekerasan. Dana disalurkan kepada organisasi pengada layanan atau Women’s Crisis Center yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Pundi Perempuan digagas oleh Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) bersama Yayasan Sosial Indonesia untuk Kemanusiaan (YSIK) sejak tahun 2003 dengan tujuan membantu kelangsungan upaya WCC untuk melayani korban kekerasan. Saat ini ada kurang lebih 50 organisasi layanan yang bekerja dengan dana yang sangat minim, tetapi setia berjuang untuk memberikan kekuatan bagi perempuan korban kekerasan.

Apa itu organisasi pengada layanan / Women’s Crisis Center?

Lembaga pengada layanan (WCC) merupakan pusat penyediaan bantuan/layanan bagi perempuan korban kekerasan. Tujuan pelayanan yang disediakan adalah mendukung perempuan korban mengatasi persoalan yang muncul sebagai dampak kekerasan yang dialaminya.  Disebut ‘Crisis Center’ karena biasanya, korban kekerasan berada dalam kondisi krisis secara fisik misalnya luka-luka dan pendarahan dan secara psikologis, misalnya trauma, linglung dan sebagainya. Di WCC, tergantung pada kapasitas organisasi, perempuan korban dilayani dengan konseling baik secara tatap muka atau melalui telepon (HOTLINE), pendampingan hukum dan penyediaan shelter (rumah aman) bagi perempuan korban.

Apa manfaat layanan WCC bagi perempuan korban?

Dari WCC perempuan korban dapat memperoleh dukungan untuk (1) rumah aman, (2) mendapat pertolongan awal dari luka, dampak psikologis, dan dampak seksual akibat kekerasan (3) memulihkan kepercayaan diri, (4) memahami hak-haknya sebagai korban, (5) mengetahui cara mengatasi persoalan dan mengambil keputusan yang terbaik, (6) melakukan proses hukum atas kasus yang menimpanya, dan (7) membangun solidaritas bersama komunitas korban.

Seberapa penting kehadiran WCC di Indonesia?

Hasil pencatatan bersama Komnas Perempuan dan lembaga-lembaga pengada layanan bagi perempuan korban pada setiap tahunnya menunjukkan bahwa angka pelaporan kekerasan terhadap perempuan terus meningkat dari tahun ke tahun.  Kami mencatat bahwa ada peningkatan tujuh kali lipat pelaporan kasus dalam lima tahun terakhir, yaitu mencapai 143.586 pada tahun 2009 dibandingkan di tahun 2005 yang berjumlah 20.391 kasus. Angka pelaporan ini hanyalah puncak gunung es dari persoalan kekerasan terhadap perempuan, karena masih ada banyak kasus yang tidak dilaporkan. Korban adalah perempuan yang berasal dari berbagai latar belakang sosial, ekonomi, budaya, agama dan pendidikan, dengan berbagai bentuk kekerasan yang dialaminya mulai dari kekerasan fisik, psikis, seksual dan penelantaran ekonomi. WCC hadir untuk mendukung perempuan korban memperjuangkan keadilan dan pemulihan dirinya.

Bagaimana Mekanisme Kerja & Pengelolaan Dana PUNDI PEREMPUAN?

Selama ini dana PUNDI PEREMPUAN dikelola dengan dua cara dalam rasio 1:3, yaitu 25% dana terkumpul dijadikan dana abadi dan 75% disalurkan bagi organisasi pengada layanan/WCC.

Distribusi dana Pundi Perempuan dilakukan dua kali dalam satu tahun, yaitu di bulan Januari dan Juli. Setiap kalinya ada 3 organisasi pengada layanan yang terpilih karena memenuhi sejumlah kriteria penerima manfaat. Masing-masing organisasi berhak atas dana hibah sebesar Rp.15.000.000. Dana terbatas ini digunakan untuk menopang kerja organisasi dalam mengadakan layanan bagi perempuan korban selama satu tahun, terutama untuk membiayai biaya operasional rumah aman dan pendampingan kasus.

Pengembangan dana abadi yang dilakukan sementara ini oleh YSIK masih menggunakan cara konvensional yaitu melalui deposito. Pengembangan dana abadi dimaksudkan agar PUNDI PEREMPUAN dapat menjaga keberlanjutan dukungannya pada kerja pelayanan bagi perempuan korban kekerasan.

Apa saja kriteria Seleksi bagi WCC penerima PUNDI PEREMPUAN?

Saat ini kami mempunyai  tujuh kriteria utama. WCC penerima PUNDI PEREMPUAN adalah (1) organisasi  atau kelompok yang lahir dari inisiatif masyarakat;  (2) aktif memberi layanan bagi perempuan korban kekerasan, dengan wilayah kerja di Tingkat II (Kabupaten/Kotamadya) atau yang lebih rendah; (3) tidak menerima dana operasional penanganan korban yang rutin dari lembaga donor; (4) memberikan layanan terhadap perempuan korban kekerasan minimal rata-rata 5 kasus per bulan; (5) mempunyai struktur organisasi dan mekanisme kerja penanganan korban; (6) mempunyai sistem kerja yang menjamin check & balances; dan (7) bekerja dengan dana operasional penanganan kasus kurang dari 5 juta/tahun.

Apakah hanya WCC yang dapat mengakses PUNDI PEREMPUAN?

Pada awalnya, PUNDI PEREMPUAN didedikasikan hanya untuk mendukung kerja organisasi pengada layanan. Dalam perkembangannya, sejalan dengan tujuan utama dari penggalangan dana ini , yaitu mendukung upaya pemenuhan hak-hak korban atas kebenaran, keadilan dan pemulihan, PUNDI PEREMPUAN sejak tahun 2007 dapat juga diakses langsung oleh komunitas korban. Pada tahun 2010, PUNDI PEREMPUAN juga mengembangkan dana keperluan mendesak (emergency) untuk membantu biaya medis bagi perempuan pembela HAM yang kesehatannya kritis. Kedua kelompok penerima manfaat ini diseleksi berdasarkan kriteria terpisah dari WCC.

Bagaimana Pertanggungjawaban PUNDI PEREMPUAN?

Setiap akhir periode kontrak, setiap WCC akan membuat laporan pertanggungjawaban. Laporan-laporan tersebut menjadi bagian dari laporan tahunan YSIK. Pengelola PUNDI PEREMPUAN, dalam hal ini YSIK, juga menerbitkan laporan audit tahunan oleh auditor independen disamping laporan tahunan rinci (narasi dan keuangan)

Informasi lebih lengkap tentang PUNDI PEREMPUAN bisa dibaca di:

www.komnasperempuan.or.id

www.ysik.org

Satukan kepedulian selama 16 Hari,

menyumbangkan sedikitnya Seribu Rupiah sehari ,

menjamin perempuan korban kekerasan mendapat pertolongan

dari 16 Lembaga Pengada Layananan,

di seluruh Indonesia,

Setiap tahun,

Selamanya.

Di berbagai belahan bumi kita, hingga hari ini, perempuan masih belum terbebaskan dari segala bentuk kekerasan. Mereka mengalaminya di dalam rumah mereka sendiri, di jalan, di tempat kerja, di lingkungan rumah, di manapun. Keadaan bisa memburuk dalam perang, atau situasi konflik. Pelakunya mungkin seseorang yang benar-benar asing, namun tak jarang mereka adalah orang terdekat yang mereka kenal setiap hari. Korban bisa siapa saja. Mungkin bukan kamu, tapi bisa jadi dia temanmu, saudaramu, ibumu, atau di kemudian hari, anakmu.

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat, di Indonesia, angka kekerasan terhadap perempuan terus dan terus meningkat setiap tahunnya. Dalam lima tahun terakhir, angka pelaporan kekerasan terhadap perempuan (KtP) meningkat hampir tujuh kali lipatnya, yaitu mencapai 143.586 pada tahun 2009 dibandingkan dari angka KtP di tahun 2005 yang berjumlah 20.391 kasus. Angka ini mungkin belum menunjukkan realita yang sesungguhnya karena tidak semua perempuan korban berani untuk melaporkan kekerasan yang mereka alami. Bisa juga karena mereka tidak tahu ke mana mereka bisa mencari perlindungan.

Salah satu tempat dimana perempuan korban mendapat pertolongan adalah lembaga pengada layanan, atau yang sering disebut Women Crisis Center (WCC). Di sana mereka mendapat tempat bernaung sementara (shelter), bantuan hukum, kesehatan, hingga penyembuhan trauma (trauma healing). Sayangnya, banyak dari WCC ini tidak bisa bertahan karena kesulitan pendanaan. Padahal, banyak perempuan korban yang membutuhkan dukungan agar dapat memperjuangkan haknya atas kebenaran, keadilan dan pemulihan.

Menyikapi situasi ini, Komnas Perempuan bersama Yayasan Sosial Indonesia untuk Kemanusiaan (YSIK) sejak tahun 2003 mengembangkan PUNDI PEREMPUAN, sebuah upaya pengumpulan dana publik bagi kelangsungan WCC. Dana yang terkumpul sampai saat ini hanya mampu untuk setiap tahunnya mendanai 6 organisasi pengada layanan untuk masa satu tahun saja.

Untuk memperkuat dukungan bagi WCC, Komnas Perempuan bersama YSIK pada tahun ini meluncurkan GERAKAN 16 HARI UNTUK SELAMANYA (G16).  Ini adalah kampanye nasional mengumpulkan dana abadi untuk PUNDI PEREMPUAN yang akan menjamin berlangsungnya layanan bagi perempuan korban, selamanya.

Dari kampanye ini kami berharap bisa mengumpulkan dana abadi sejumlah 6 Milyar rupiah yang akan dikembangkan untuk dapat mendukung 16 lembaga pengada layanan di seluruh Indonesia, setiap tahunnya, selama-lamanya. Pengumpulan dana ini akan berlangsung selama rangkaian kampanye 16 hari Anti kekerasan terhadap Perempuan, mulai dari tanggal 25 November hingga 10 Desember, mulai dari tahun 2010.

Bentuk Kegiatan .

Penggalangan dana dalam Gerakan 16 Hari Untuk Selamanya diarahkan pada perseorangan. Masing-masing orang diminta untuk ikut menabung minimal seribu rupiah selama 16 hari dan mengajak 16 orang lainnya untuk melakukan hal yang serupa. Dengan setiap orang menyumbang sebesar Rp 16.000 saja,  dibutuhkan 375.000 orang terlibat dalam gerakan ini untuk mencapai target 6 milyar rupiah.

Sumbangan tersebut dapat diberikan secara tunai lewat booth atau meja donasi PUNDI PEREMPUAN yang tersedia.  Sumbangan juga dapat dilakukan lewat transfer ke no rekening PUNDI PEREMPUAN (a.n. YSIK), dan kemudian transfer tersebut dikonfirmasi lewat telefon, fax atau email. Sumbangan melalui transfer dapat dilakukan masing-masing individu atau melalui simpul G16.

PUNDI PEREMPUAN menyediakan kenang-kenangan bagi setiap orang yang menyumbang sebagai ikatan persahabatan. Simpul G16 yang berhasil mengumpulkan sumbangan terbanyak akan memperoleh kenangan-kenangan khusus dari PUNDI PEREMPUAN.

Kerja Sama Mitra K16HAKTP .

Komnas Perempuan mengajak mitra Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan untuk menjadi simpul G16.

Informasi tentang G16 dapat disampaikan dalam setiap kegiatan K16HAKTP yang diselenggarakan oleh mitra di tempatnya masing-masing. Dalam kesempatan itu, mitra K16HAKTP dapat mengumpulkan donasi dari peserta kampanye. Mitra K16HAKTP juga dapat membuat kegiatan khusus untuk G16, atau menggunakan cara ketok tular untuk menumbuhkan solidaritas publik dalam penggalangan dana ini.

Untuk bisa terlibat sebagai simpul G16, Mitra K16HAKTP harus bersepakat untuk mengumpulkan dana abadi bagi PUNDI PEREMPUAN, mencatat kontak dari setiap orang yang ikut menyumbang, serta memegang teguh prinsip akuntabilitas dan transparansi atas dana terkumpul.

Setiap mitra yang menjadi simpul G16 akan dibekali dengan lembar informasi dan kenang-kenangan dari PUNDI PEREMPUAN bagi mereka yang ikut menyumbang. Lembar informasi juga dapat diperbanyak secara mandiri oleh mitra K16HAKTP.

Di akhir kegiatan K16HAKTP, yaitu 11 Desember 2010, mitra yang menjadi simpul G16 akan menginformasikan kepada Komnas Perempuan dan YSIK jumlah individu yang menyumbang, jumlah dana yang terkumpul dan kontak dari setiap individu yang ikut menyumbang.

Lima belas persen dari total dana yang terkumpul menjadi milik mitra simpul G16 sebagai wujud terimakasih PUNDI PEREMPUAN kepada kerja keras kawan-kawan mitra. Tentunya, PUNDI PEREMPUAN tidak menutup diri bila mitra ingin menyerahkan seluruh dana terkumpul bagi pengembangan dana abadi.

Publikasi Hasil G16: AKUNTABILITAS DAN TRANSPARANSI .

Pada akhir kampanye 16HAKTP, YSIK sebagai pengelola PUNDI PEREMPUAN akan mengompilasi laporan dari simpul G16 yang diserahkan pada tanggal 11 Desember 2010.

Hasil kompilasi akan disampaikan kepada publik melalui media massa pada tanggal 16 Desember 2010, melalui situs Komnas Perempuan (www.komnasperempuan.or.id) dan YSIK (www.ysik.org), melalui jaring sosial facebook Komnas Perempuan, dan melalui email atau sms kepada masing-masing orang yang ikut berpartisipasi dalam G16.

Pengelolaan dana abadi akan menjadi bagian yang diaudit secara independen dan berkala dalam pelaporan PUNDI PEREMPUAN. Seluruh data kontak individu yang bepartisipasi dalam G16 akan selalu memperoleh informasi termutakhir tentang penggunaan dana abadi PUNDI PEREMPUAN, selamanya.

——————————————————————————————————–

Kontak G16 .

Bila tertarik menjadi simpul G16, hubungi:

Site (Komnas Perempuan) di 021 3903963 / 081932787358 / This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

Enim (YSIK) di

Kekerasan Seksual adalah isu penting dan rumit dalam peta kekerasan terhadap perempuan karena memiliki dimensi yang sangat khas perempuan karena sering dikaitkan dengan isu moralitas. Pemantauan Komnas Perempuan sejak tahun 1998 hingga 2010 menunjukkan hampir sepertiga kasus kekerasan terhadap perempuan adalah kasus kekerasan seksual, atau ada 91.311 kasus kekerasan seksual dari 295.836 total kasus kekerasan terhadap perempuan.

“Kekerasan Seksual: Kenali dan Tangani” adalah tema yang dicanangkan bersama Komnas Perempuan dan jaringan kerjanya untuk tahun kampanye 2010-2014. Sejak tema ini diangkat, Komnas Perempuan telah menemukenali 14 bentuk kekerasan seksual (KS), yaitu: (1) perkosaan (2) pelecehan seksual (3)eksploitasi seksual (4) penyiksaan seksual (5) perbudakan seksual (6) intimidasi/ serangan bernuansa seksual termasuk ancaman atau percobaan perkosaan (7) prostitusi paksa (8) pemaksaan kehamilan (9) pemaksaan aborsi (10) pemaksaan perkawinan (11) perdagangan perempuan untuk tujuan seksual (12) kontrol seksual termasuk pemaksaan busana dan kriminalisasi perempuan lewat aturan diskriminatif beralasan moralitas dan agama (13) penghukuman tidak manusiawi dan bernuansa seksual (14) praktik tradisi bernuansa seksual yang membahayakan atau mendiskriminasi perempuan.

Dengan mengusung tema ini, Komnas Perempuan mengajak lebih banyak pihak untuk peduli pada berbagai tindak kekerasan seksual terhadap perempuan di sekitar mereka. Seruan ini menghantarkan Komnas Perempuan untuk menemukan bentuk lain dari kekerasan seksual yang dihadapi perempuan, yaitu (15) pemaksaan kontrasepsi/sterilisasi, yaitu “pemaksaan penggunaan alat-alat kontrasepsi bagi perempuan untuk mencegah reproduksi, atau pemaksaan penuh organ seksual perempuan untuk berhenti bereproduksi sama sekali, sehingga merebut hak seksualitas perempuan serta reproduksinya”. Persoalan ini sebelumnya pernah diangkat kelompok perempuan pada masa Orde Baru, yang ditengarai merupakan akibat dari wacana penurunan laju pertambahan penduduk sebagai salah satu indikator keberhasilan pembangunan. Kali ini, persoalan pemaksaan kontrasepsi/sterilisasi diangkat oleh perempuan dengan disabilitas dan perempuan dengan HIV/AIDS. Mereka melaporkan bahwa pemaksaan kontrasepsi/sterilisasi kerap ditolerir karena dianggap bisa mencegah kehamilan yang tidak diinginkan oleh pihak lain di kedua kelompok ini, tanpa memberikan informasi dan kesempatan kepada mereka untuk dapat memilih sendiri keputusan terkait dengan hak reproduksi yang mereka miliki.

Selengkapnya dapat didownload DISINI

You are here: Kekerasan Seksual: Kenali dan Tangani Displaying items by tag: kampanye 2010
Copyright © 2010 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan . All Rights Reserved.