Kompetisi Desain Alat Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan

KEKERASAN SEKSUAL: KENALI & TANGANI

20 perempuan Indonesia menjadi korban kekerasan seksual, setiap hari! ¼  dari jumlah seluruh kasus kekerasan terhadap perempuan adalah kekerasan seksual

(Kajian Komnas Perempuan tentang Kekerasan Seksual, 2011)

Sebagian besar kekerasan seksual dilakukan oleh anggota keluarga perempuan korban sendiri. Sebagian oleh orang lain dalam komunitas mereka, dan ada yang dilakukan oleh aparat negara, bahkan pejabat publik. Bentuk kekerasan seksual bukan hanya pelecehan seksual atau perkosaan. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) menemukan ada 14 bentuk kekerasan seksual, termasuk prostitusi paksa, perkawinan paksa, aborsi paksa, kehamilan paksa, hingga kontrol seksual, misalnya melalui aturan busana. Kekerasan seksual menjadi amat sulit untuk diselesaikan karena ada persoalan besar dalam aturan hukum nasional dan sikap aparat penegak hukum, buruknya stigma terhadap korban, dan budaya menyalahkan korban.

Itulah sebabnya ”Kekerasan Seksual: Kenali dan Tangani” menjadi tema Kampanye 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan (k16haktp) sejak tahun 2010 hingga 2014. K16haktp adalah kampanye yang berlangsung setiap tanggal 25 November hingga 10 Desember. Tujuannya adalah mengajak masyarakat bergabung dalam gerakan anti kekerasan terhadap perempuan, dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berbasis gender lainnya. Ini adalah kampanye internasional sejak 1991, dan Komnas Perempuan mengambil peran sebagai fasilitator kampanye ini di tingkat nasional. Pada 2011, ada 52 organisasi yang berasal dari 42 kabupaten di 23 provinsi bergabung dalam kampanye ini di Indonesia.

Komnas Perempuan mengajak kamu bergabung dalam gerakan ini dengan mengikuti Kompetisi desain alat kampanye 2012. Melalui kompetisi ini, kamu bisa membuat pesan-pesan kampanye untuk perubahan  dan penanganan kekerasan seksual tersampaikan kepada publik. Tentunya lewat desain yang kreatif, jelas dan mudah dipahami, serta membuat lebih banyak orang ikut lakukan aksi untuk tangani Kekerasan Seksual.

"Jika sunat perempuan merupakan tradisi, bukan ajaran, terlebih banyak mudharatnya, lebih baik ditinggalkan saja."


Demikian ungkap AD.Kusumaningtyas dari Rahima, saat berbicara dalam diskusi yang diselenggarakan Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta (10/12/2010). Diskusi ini merupakan bagian dari rangkaian Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan yang diselenggarakan secara nasional.

Sebelumnya, diskusi diawali pemutaran film berjudul “Pertaruhan”. Film produksi Kalyashira ini mengupas tentang realitas kehidupan sehari-hari, termasuk sunat perempuan. Film ini memperlihatkan sunat perempuan masih menjadi praktik beberapa masyarakat. Sebagian percaya bahwa sunat perempuan merupakan sebuah anjuran agama, oleh karenanya harus dilaksanakan. Sementara yang lainnya mengatakan bahwa sunat perempuan tidak jelas hukumnya, dan hanya merupakan tradisi, seperti diamini oleh alm.Gusdur dalam film tersebut.

 

Sejumlah mitra Komnas Perempuan serentak melakukan Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16HAKTP). Kampanye ini dimulai dari tanggal 25 November 2010 dan berakhir pada tanggal 10 Desember 2010. Swara Parangpuan Manado adalah satu dari 37 mitra Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) yang melakukan kampanye tersebut. Kekerasan Seksual:Kenali dan Tangani adalah tema yang mereka angkat, mengikuti tema nasional  yang diusung oleh Komnas Perempuan.

Dibawah ini adalah materi-mater kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan 2010 dalam format PDF :

  1. Lembar Fakta Kekerasan Seksual
  2. Press Backgrounder
  3. Desain Kaos
  4. Desain Pin
  5. Desain Tas

Silahkan menyebarkan atau mempublikasikan materi-materi tersebut.

 

Dalam rangkaian Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, Komisi Anti Kekerasan Terhadap Perempuan ( Komnas Perempuan) bekerjasam dengan Kineforum meyelenggarakan pekan pemutaran film dan diskusi. Kekerasan Seksual:Kenali dan Tangani menjadi tema kampanye sekaligus tema pemutran film ini. Kekerasan seksual juga menjadi tema kampanye lima tahun ke depan.

Jumat, 26 November 2010 dilakukan pemutaran film dokumenter bejudul Befreier und Befreite dan dilanjutkan dengan focused group discussion (FGD). Film ini berkisah tentang perempuan korban perkosaan pada Perang Dunia II yang mulai berani menceritakan pengalamannya setelah 46 tahun membisu.

Dalam rangka memperingati Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, Perkumpulan Peduli Medan menggelar diskusi dengan tema “Kekerasan Seksual terhadap Perempuan dalam Perspektif Agama Kristen Protestan dan Adat Batak” (26/11/2010). Hadir sebagai pembicara adalah C.Pdt.Reni Simanjuntak, Pdt.Suenita Sinulingga, STh, Erlina Pardede serta Sylvana Maria Apituley-Komisioner Komnas Perempuan.

Dalam rangka Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, Komnas Perempuan bekerja sama dengan Kineforum, akan menggelar Pekan Film dan Diskusi. Tema yang diangkat sesuai dengan tema kampanye 16 Hari tahun 2010 ini, yaitu ”Kekerasan Seksual: Kenali dan Tangani. Terdapat sembilan judul film yang akan diputar mengenai kekerasan berbasis gender dan identitas seksual, baik produksi mancanegara maupun dari dalam negeri, termasuk produksi Komnas Perempuan sendiri.

Film dan diskusi tematik kami pilih sebagai salah satu media untuk kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, mengingat efektivitasnya dalam menarik perhatian masyarakat dan menyampaikan pesan. Untuk itu, Komnas Perempuan mengundang kehadian kawan-kawan untuk bisa ikut menghadiri pemutaran film dan diskusi yang rangkaiannya akan diadakan pada :

Hari/Tanggal : Kamis, 25 November 2010 sampai dengan Jum’at, 10 Desember 2010

Tempat       : Kineforum, Taman Ismail Marzuki, Jl. Cikini Raya no 73, Jakarta Pusat

Waktu        : terlampir

Acara         : Pemutaran Film dan Diskusi bertema Kekerasan Seksual


Demikian undangan ini kami sampaikan, atas perhatian dan kehadirannya kami ucapkan terima kasih.

 

Hormat kami,

-

Andy Yentriyani

(Komisioner, Ketua Subkomisi Partisipasi Masyarakat)

———————————————–

Informasi dan konfirmasi kehadiran, kunjungi; www.komnasperempuan.or.id atau hubungi: Site: 081932787358

-

Acara ini bekerjasama dengan :

Daftar Pemutaran Film dan Diskusi Bisa Didownload di Link Dibawah Ini :

Satukan kepedulian selama 16 Hari,

menyumbangkan sedikitnya Seribu Rupiah sehari ,

menjamin perempuan korban kekerasan mendapat pertolongan

dari 16 Lembaga Pengada Layananan,

di seluruh Indonesia,

Setiap tahun,

Selamanya.

Di berbagai belahan bumi kita, hingga hari ini, perempuan masih belum terbebaskan dari segala bentuk kekerasan. Mereka mengalaminya di dalam rumah mereka sendiri, di jalan, di tempat kerja, di lingkungan rumah, di manapun. Keadaan bisa memburuk dalam perang, atau situasi konflik. Pelakunya mungkin seseorang yang benar-benar asing, namun tak jarang mereka adalah orang terdekat yang mereka kenal setiap hari. Korban bisa siapa saja. Mungkin bukan kamu, tapi bisa jadi dia temanmu, saudaramu, ibumu, atau di kemudian hari, anakmu.

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat, di Indonesia, angka kekerasan terhadap perempuan terus dan terus meningkat setiap tahunnya. Dalam lima tahun terakhir, angka pelaporan kekerasan terhadap perempuan (KtP) meningkat hampir tujuh kali lipatnya, yaitu mencapai 143.586 pada tahun 2009 dibandingkan dari angka KtP di tahun 2005 yang berjumlah 20.391 kasus. Angka ini mungkin belum menunjukkan realita yang sesungguhnya karena tidak semua perempuan korban berani untuk melaporkan kekerasan yang mereka alami. Bisa juga karena mereka tidak tahu ke mana mereka bisa mencari perlindungan.

Salah satu tempat dimana perempuan korban mendapat pertolongan adalah lembaga pengada layanan, atau yang sering disebut Women Crisis Center (WCC). Di sana mereka mendapat tempat bernaung sementara (shelter), bantuan hukum, kesehatan, hingga penyembuhan trauma (trauma healing). Sayangnya, banyak dari WCC ini tidak bisa bertahan karena kesulitan pendanaan. Padahal, banyak perempuan korban yang membutuhkan dukungan agar dapat memperjuangkan haknya atas kebenaran, keadilan dan pemulihan.

Menyikapi situasi ini, Komnas Perempuan bersama Yayasan Sosial Indonesia untuk Kemanusiaan (YSIK) sejak tahun 2003 mengembangkan PUNDI PEREMPUAN, sebuah upaya pengumpulan dana publik bagi kelangsungan WCC. Dana yang terkumpul sampai saat ini hanya mampu untuk setiap tahunnya mendanai 6 organisasi pengada layanan untuk masa satu tahun saja.

Untuk memperkuat dukungan bagi WCC, Komnas Perempuan bersama YSIK pada tahun ini meluncurkan GERAKAN 16 HARI UNTUK SELAMANYA (G16).  Ini adalah kampanye nasional mengumpulkan dana abadi untuk PUNDI PEREMPUAN yang akan menjamin berlangsungnya layanan bagi perempuan korban, selamanya.

Dari kampanye ini kami berharap bisa mengumpulkan dana abadi sejumlah 6 Milyar rupiah yang akan dikembangkan untuk dapat mendukung 16 lembaga pengada layanan di seluruh Indonesia, setiap tahunnya, selama-lamanya. Pengumpulan dana ini akan berlangsung selama rangkaian kampanye 16 hari Anti kekerasan terhadap Perempuan, mulai dari tanggal 25 November hingga 10 Desember, mulai dari tahun 2010.

Bentuk Kegiatan .

Penggalangan dana dalam Gerakan 16 Hari Untuk Selamanya diarahkan pada perseorangan. Masing-masing orang diminta untuk ikut menabung minimal seribu rupiah selama 16 hari dan mengajak 16 orang lainnya untuk melakukan hal yang serupa. Dengan setiap orang menyumbang sebesar Rp 16.000 saja,  dibutuhkan 375.000 orang terlibat dalam gerakan ini untuk mencapai target 6 milyar rupiah.

Sumbangan tersebut dapat diberikan secara tunai lewat booth atau meja donasi PUNDI PEREMPUAN yang tersedia.  Sumbangan juga dapat dilakukan lewat transfer ke no rekening PUNDI PEREMPUAN (a.n. YSIK), dan kemudian transfer tersebut dikonfirmasi lewat telefon, fax atau email. Sumbangan melalui transfer dapat dilakukan masing-masing individu atau melalui simpul G16.

PUNDI PEREMPUAN menyediakan kenang-kenangan bagi setiap orang yang menyumbang sebagai ikatan persahabatan. Simpul G16 yang berhasil mengumpulkan sumbangan terbanyak akan memperoleh kenangan-kenangan khusus dari PUNDI PEREMPUAN.

Kerja Sama Mitra K16HAKTP .

Komnas Perempuan mengajak mitra Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan untuk menjadi simpul G16.

Informasi tentang G16 dapat disampaikan dalam setiap kegiatan K16HAKTP yang diselenggarakan oleh mitra di tempatnya masing-masing. Dalam kesempatan itu, mitra K16HAKTP dapat mengumpulkan donasi dari peserta kampanye. Mitra K16HAKTP juga dapat membuat kegiatan khusus untuk G16, atau menggunakan cara ketok tular untuk menumbuhkan solidaritas publik dalam penggalangan dana ini.

Untuk bisa terlibat sebagai simpul G16, Mitra K16HAKTP harus bersepakat untuk mengumpulkan dana abadi bagi PUNDI PEREMPUAN, mencatat kontak dari setiap orang yang ikut menyumbang, serta memegang teguh prinsip akuntabilitas dan transparansi atas dana terkumpul.

Setiap mitra yang menjadi simpul G16 akan dibekali dengan lembar informasi dan kenang-kenangan dari PUNDI PEREMPUAN bagi mereka yang ikut menyumbang. Lembar informasi juga dapat diperbanyak secara mandiri oleh mitra K16HAKTP.

Di akhir kegiatan K16HAKTP, yaitu 11 Desember 2010, mitra yang menjadi simpul G16 akan menginformasikan kepada Komnas Perempuan dan YSIK jumlah individu yang menyumbang, jumlah dana yang terkumpul dan kontak dari setiap individu yang ikut menyumbang.

Lima belas persen dari total dana yang terkumpul menjadi milik mitra simpul G16 sebagai wujud terimakasih PUNDI PEREMPUAN kepada kerja keras kawan-kawan mitra. Tentunya, PUNDI PEREMPUAN tidak menutup diri bila mitra ingin menyerahkan seluruh dana terkumpul bagi pengembangan dana abadi.

Publikasi Hasil G16: AKUNTABILITAS DAN TRANSPARANSI .

Pada akhir kampanye 16HAKTP, YSIK sebagai pengelola PUNDI PEREMPUAN akan mengompilasi laporan dari simpul G16 yang diserahkan pada tanggal 11 Desember 2010.

Hasil kompilasi akan disampaikan kepada publik melalui media massa pada tanggal 16 Desember 2010, melalui situs Komnas Perempuan (www.komnasperempuan.or.id) dan YSIK (www.ysik.org), melalui jaring sosial facebook Komnas Perempuan, dan melalui email atau sms kepada masing-masing orang yang ikut berpartisipasi dalam G16.

Pengelolaan dana abadi akan menjadi bagian yang diaudit secara independen dan berkala dalam pelaporan PUNDI PEREMPUAN. Seluruh data kontak individu yang bepartisipasi dalam G16 akan selalu memperoleh informasi termutakhir tentang penggunaan dana abadi PUNDI PEREMPUAN, selamanya.

——————————————————————————————————–

Kontak G16 .

Bila tertarik menjadi simpul G16, hubungi:

Site (Komnas Perempuan) di 021 3903963 / 081932787358 / This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

Enim (YSIK) di

 

Siaran Pers Bersama

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan dan Aliansi Jurnalis Independen

dalam rangka Peluncuran Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan

Jakarta, 24 November 2010

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) bersama 37 organisasi di 33 Kabupaten di 21 Provinsi, mengawali kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (K16HAKTP) mulai tanggal 25 November hingga 10 Desember 2010 dengan tema ”Kekerasan Seksual: Kenali dan Tangani”.

Kekerasan Seksual adalah isu penting dan rumit dalam peta kekerasan terhadap perempuan karena memiliki dimensi yang sangat khas perempuan karena sering dikaitkan dengan isu moralitas. Pemantauan Komnas Perempuan sejak tahun 1998 hingga 2010 menunjukkan hampir sepertiga kasus kekerasan terhadap perempuan adalah kasus kekerasan seksual, atau ada 91.311 kasus kekerasan seksual dari 295.836 total kasus kekerasan terhadap perempuan.

Kekerasan seksual terjadi di semua ranah: personal, publik dan negara. Perempuan pembela HAM, perempuan penyandang cacat, yang hidup dengan HIV/AIDs dan pekerja migran memiliki kerentanan khusus terhadap kekerasan seksual. Perkosaan, perdagangan perempuan untuk tujuan seksual, pelecehan seksual dan penyiksaan seksual adalah empat jenis kekerasan seksual terbanyak yang dicatat Komnas Perempuan. Berulangnya kekerasan seksual dan penanganannya yang tidak tuntas membuat perempuan terampas hak konstitusionalnya atas jaminan rasa aman, perlindungan hukum, dan bebas dari kekerasan dan diskriminasi.

Tema “Kekerasan Seksual: Kenali dan Tangani” pada Kampanye 16 Hari Anti kekerasan terhadap Perempuan berlangsung selama lima tahun hingga tahun 2014 sebagai pernyataan sikap Komnas Perempuan beserta para mitranya untuk mengenalkan kekerasan seksual kepada masyarakat luas, komitmen menangani kekerasan seksual terhadap perempuan, serta memperjuangkan hak atas kebenaran, keadilan dan pemulihan dari para perempuan korban kekerasan seksual.

Bersama Yayasan Sosial Indonesia untuk Kemanusiaan (YSIK), Komnas Perempuan menggagas “Gerakan 16 Hari untuk Selamanya” (G-16) untuk mengajak berbagai kalangan menggalang dana abadi untuk memastikan kelangsungan organisasi pengada layanan bagi perempuan korban kekerasan. Pengumpulan dana berlangsung selama K16HAKTP, mulai tanggal 25 November hingga 10 Desember.

Bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Komnas Perempuan menghimbau jurnalis menerapkan kode etik jurnalistik, khususnya pasal 4, 5, dan 8, serta menggunakan jurnalisme berperspektif keadilan gender, yang memperhatikan sisi perlindungan dan dukungan korban (dalam hal ini perempuan). Dengan demikian, jurnalis mampu memberitakan peristiwa secara obyektif tanpa membuat korban merasa dikorbankan kembali (reviktimisasi), dan membuka mata publik tentang pelecehan, kekerasan, diskriminasi, dan stigmatisasi yang dialami korban.

Untuk informasi lebih lanjut :

  • K16HAKTP : Siti Maesaroh (Koordinator Divisi Partisipasi Masyarakat) 081932787358
  • Kekerasan Seksual & Media: Rach Alida Bahaweres (Koordinator Divisi Perempuan AJI Indonesia) 081330392480
  • Gerakan 16 Hari untuk Selamanya : Anik Wusari (Direktur Eksekutif YSIK) : 08129282682
You are here: Kekerasan Seksual: Kenali dan Tangani Displaying items by tag: kampanye 16 hari
Copyright © 2010 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan . All Rights Reserved.